Angel duduk gelisah dengan gaun pengantin warna putih yang masih menyempurnakan kecantikannya. Di sudut tempat tidur, kedua mata Angel tak hentinya menatap khawatir suasana sekitar khususnya sekitar meja rias dan pintu kamar hotel keberadaannya. Bahkan sekalipun ia sudah membiarkan semua lampu di sana menyala hingga suasana menjadi terang benderang, rasa takut yang menyertainya sama sekali tidak berkurang. Padahal, harusnya semuanya baik-baik saja. Namun, bayang-bayang mimpi yang terus terputar di ingatannya telanjur meracuni pikirannya. Mimpi kejadian seseorang mempelai wanita yang duduk di kursi rias dan ditembak oleh penyusup. “Marchel ke mana, sih? Kok lama banget!” keluh Angel yang sudah sampai menangis, tak kuasa menahan takut yang sudah membuatnya gemetaran. Kedua jemari tangannya