Bab 6 🍒

1043 Kata
Siang harinya, Gavin memboyong Vero pindah dari hotel penthouse di pusat kota Reykjavik ke sebuah vila privat yang letaknya agak tersembunyi di pinggiran tebing berbatu. Mobil mewah mereka berhenti di depan vila, Vero langsung melongo saking takjubnya. Vila itu punya desain minimalis modern dengan d******i dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah laut lepas Islandia yang berwarna biru gelap cenderung abu-abu, tipikal laut utara yang dingin tapi kelihatan magis banget. Di depan teras kayu vila itu, ada sebuah outdoor jacuzzi berukuran besar yang airnya sudah mengepulkan uap hangat, kontras banget sama pemandangan hamparan salju putih di sekelilingnya dan deburan ombak laut di bawah tebing. "Suka?" tanya Gavin yang tiba-tiba udah berdiri di belakang Vero, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Vero yang masih berbalut mantel tebal. "Suka banget, Om! Ini bener-bener keren parah," seru Vero antusias, menolehkan kepalanya buat memberikan kecupan singkat di pipi Gavin. "Gak menyangka di balik tebing bersalju kayak gini ada vila semewah ini. Punya Om juga?" Gavin terkekeh pelan, menyurukkan hidungnya ke rambut Vero yang wangi. "Bukan, ini punya salah satu rekan bisnis saya di sini. Tapi, berhubung dia lagi di London, saya sewa sekalian buat kita berdua. Biar gak ada yang ganggu." Vero tersenyum penuh arti. "Biar gak ada yang ganggu atau biar Om bisa bebas ngapa-ngapain aku?" "Dua-duanya," bisik Gavin tanpa ragu dengan suara beratnya yang seksi, bikin bulu kuduk Vero meremang seketika. "Sana ganti baju. Kita berendam di luar." Gak butuh waktu lama buat Vero buat ganti pakaian. Tapi, dia sempat ragu pas melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Vero cuma memakai bikini model two-piece warna hitam polos yang seadanya dia bawa dari Jakarta, niat awal buat jaga-jaga kalau hotelnya ada kolam renang air hangat. Masalahnya, bikini itu memperlihatkan dengan jelas beberapa bercak kemerahan di sekitar tulang selangka dan dadanya, hasil kerjaan Gavin selama dua malam berturut-turut. "Ah, biarin deh. Toh, cuma ada Om Gavin ini," gumam Vero pasrah. Vero berjalan keluar menuju teras dengan memakai jubah mandi tebal terlebih dahulu karena udara luar bener-bener menggigit kulit. Di luar, Gavin ternyata udah masuk duluan ke dalam jacuzzi. Pria itu menyandarkan kedua lengannya di pinggiran kolam, memperlihatkan d**a bidang dan bahu kokohnya yang basah terkena cipratan air hangat. Begitu melihat Vero datang, tatapan Gavin langsung mengunci pergerakan wanita itu. Vero melepas jubah mandinya dengan agak ragu, membiarkan tubuh indahnya terekspos udara dingin Islandia selama beberapa detik sebelum buru-buru melangkah turun ke dalam air hangat jacuzzi. Begitu tubuhnya tenggelam dalam air yang bergolak lembut, Vero langsung mendesah lega. "Hah ... gila, enak banget airnya," racik Vero sambil memejamkan mata, menikmati sensasi kontras antara wajahnya yang diterpa angin laut yang dingin dan tubuhnya yang direndam air panas. Gavin gak bersuara. Pria itu cuma bergerak mendekat dari balik uap air yang mengepul. Sebelum Vero sempat membuka mata, sebuah lengan kekar udah melingkar di perutnya dari belakang, menarik tubuh Vero sampai bersandar pas di d**a telanjang Gavin. "Om.” Vero menoleh sedikit, menatap wajah tampan Gavin yang jaraknya cuma beberapa sentimeter. "Bikini kamu bagus. Tapi, tanda di leher kamu jauh lebih bagus," goda Gavin, jemarinya bergerak pelan mengusap salah satu bercak kemerahan di dekat bahu Vero yang gak tertutup air. Wajah Vero otomatis memerah lagi, entah karena efek air panas atau karena godaan pria matang ini. Vero membalikkan tubuhnya di dalam air, jadi duduk berhadapan di atas pangkuan Gavin, mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu dengan santai. Di bawah air, paha mereka saling bergesekan, memicu sengatan instan yang akrab di antara mereka. "Om Gavin tuh ya, gak bisa apa sehari aja gak bahas begituan?" cibir Vero sambil memainkan air dengan satu tangannya, memercikannya sedikit ke d**a Gavin. Gavin tersenyum tipis, menangkap pergelangan tangan Vero lalu mengecup jarinya satu per satu. "Gak bisa, apalagi kalau di depan saya ada kamu dengan pakaian seminim ini, Veronika. Ditambah pemandangan laut lepas di depan kita. Suasananya terlalu sayang buat dilewatkan cuma dengan mengobrol." Vero melirik ke arah luar jacuzzi. Di depan mereka, laut utara yang luas terbentang tanpa batas, berpadu dengan langit sore yang mulai berubah warna jingga keunguan. Deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana terdengar konstan, menciptakan ritme yang tenang sekaligus intim. "Indah banget ya, Om. Aku berasa kayak lagi mimpi. Minggu lalu aku masih pusing mikirin revisi kerjaan di kantor Jakarta, sekarang aku malah di Islandia, berendam bareng Om-Om kaya yang super ganteng," ucap Vero jujur, menatap mata Gavin dengan binar kagum yang gak bisa disembunyikan. Gavin menatap Vero dengan intensitas yang dalam. Ia bisa melihat ketulusan di mata gadis muda ini. Tangannya merayap naik ke tengkuk Vero, menarik wajah wanita itu perlahan. "Kamu bukan lagi mimpi, Sayang. Ini nyata. Dan, mulai sekarang, kamu gak perlu pusing lagi mikirin kerjaan di Jakarta." "Maksud Om?" Vero mengernyitkan keningnya bingung. "Setelah liburan ini selesai, kamu ikut saya balik ke Jakarta. Tapi, bukan sebagai asisten dadakan lagi," bisik Gavin tepat di depan bibir Vero. "Kamu jadi wanita saya. Pindah ke apartemen saya. Segala kebutuhan kamu, saya yang tanggung." Jantung Vero langsung berdegup kencang mendengarnya. Tawaran itu bener-bener terdengar seperti mimpi di siang bolong. Menjadi wanita simpanan seorang Gavin Lorenso? Atau sesuatu yang lebih? Tapi, sebelum Vero sempat memproses isi otaknya lebih jauh, Gavin udah keburu membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang dalam dan menuntut. Ciuman di dalam jacuzzi itu terasa berbeda. Di bawah air yang bergolak hangat, tangan Gavin mulai bekerja dengan lihai. Gavin merayap masuk ke dalam tali bikini Vero, menurunkannya dengan mudah sampai kain hitam itu terlepas dari tubuh Vero dan melayang di dalam air kolam. "Nghh ... Om," desah Vero tertahan begitu ciuman mereka terlepas untuk mengambil napas. Tubuhnya menggigil ringan, bukan karena dingin, tapi karena sensasi tangan Gavin yang mulai meremas bokongnya di bawah air, mengangkat tubuh mungil Vero agar menyatu lebih dalam dengan miliknya. "Fokus ke saya, Vero. Lupakan Jakarta, lupakan masa depan. Sekarang cuma ada saya dan kamu di sini,” perintah Gavin dengan suara berat yang penuh d******i, mengunci tatapan mata Vero yang sudah mulai sayu karena gairah yang kembali tersulut. Vero menggigit bibir bawahnya, mengangguk pasrah sambil mencengkram bahu basah Gavin dengan kuat. Di bawah siraman uap air yang mengepul dan pemandangan laut Islandia yang menjadi saksi bisu, mereka kembali menyerah pada gairah yang membakar, mengubah sore yang dingin itu menjadi arena permainan panas yang bikin Vero lagi-lagi mendesah manja memanggil nama sang Om.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN