Keputusan Telak

1083 Kata
Aku tak tahu sejak kapan rumah ini terasa asing. Mungkin sejak aku mulai menyembunyikan ponsel saat masuk rumah. Mungkin sejak aku membandingkan masakan Nadira dengan makanan yang dibeli Kalya. Lalu diam-diam merasa lebih nikmat makan di luar. Atau mungkin, sejak aku berhenti mencari matanya ketika berbicara. Hari itu aku pulang agak malam. Bukan karena dinas. Tapi karena aku... memang sengaja menghindar. Aku tahu Nadira pasti menunggu. Dia pasti akan bertanya, menyindir, mungkin juga menangis. Dan aku sudah terlalu lelah untuk menghadapi semua itu. Aku ingin ketenangan. Tapi entah kenapa, sejak aku semakin dekat dengan Kalya... hidupku justru makin berisik. Saat aku buka pintu, aroma rumah ini langsung menyergap. Hangat, akrab, tapi terasa berat di d**a. Aku melihat Nadira berdiri di ambang dapur. Wajahnya datar, tapi aku bisa membaca matanya. Mata yang selalu jadi kaca dari luka yang tak dia ucapkan. "Baru pulang. Mas?" tanyanya pelan. Aku hanya mengangguk. Tidak ingin memulai perdebatan. "Kamu tidur di mana semalam?" tanyanya lagi dengan suara yang masih pelan. Aku menahan napas, lalu menghembuskan keras. "Jangan mulai lagi, Nadira," kataku cepat. Bukan karena benci, tapi karena aku terlalu sering mendengar pertanyaan yang sama. "Aku cuma tanya. Sekadar tanya," katanya lirih. "Kenapa kamu nggak pulang?" "Karena aku capek," jawabku. "Capek pulang dan terus disidang. Capek di rumah sendiri harus merasa bersalah." Dia menatapku tajam. "Aku hanya ingin kamu jujur. Kamu... masih cinta sama aku, Mas?" Pertanyaan itu... membuat langkahku terhenti. Cinta? Jujur saja... aku tidak tahu jawabannya. Mungkin tidak. Mungkin aku sudah tidak lagi mencintainya sebagaimana dulu. Mungkin rasa itu sudah berubah bentuk. Bukan benci. Tapi... lelah, datar dan kosong. "Cinta?" Aku mengangkat alis. "Nadira, rumah tangga kita ini sudah jadi beban. Kita cuma bertahan karena status. Kamu juga tahu itu." Dia berjalan mendekat. Napasnya bergetar. "Kalau memang kamu sudah nggak cinta... kenapa kamu masih di sini?" "Karena ada tanggung jawab." "Kalau kamu tanggung jawab... kamu nggak akan buat istrimu merasa paling sendirian di rumahnya sendiri!" Aku ingin menjawab, tapi dia terus bicara. "Kamu nggak tahu gimana rasanya tidur sendirian tiap malam. Bangun sendiri. Masak sendiri. Mandiin anak sendiri. Dan tiap kali dengar suara mobil di luar, aku berharap itu kamu. Tapi yang pulang cuma sepi." Dadaku mulai sesak. Tapi aku terlalu gengsi untuk menunjukkannya. "Jadi kamu mau apa sekarang?" tanyaku. "Aku mau kamu jujur. Mau kamu ngaku bahwa kamu mencintai Kalya lebih dari aku." "Berhenti sebut-sebut Kalya!" "Kenapa? Malu? Padahal kamu gandeng dia di depan orang-orang. Tapi aku, istrimu, kamu sembunyikan seperti aib!" Tanganku mengepal. Bukan karena ingin menyakitinya. Tapi karena aku benci dihadapkan pada kenyataan yang tak bisa aku sangkal. "Kamu berubah, Mas," katanya dengan air mata mulai luruh. "Kamu bukan Damar yang aku kenal. Dulu kamu pulang cepat biar bisa makan bareng aku. Sekarang kamu sengaja pulang larut. Dulu kamu suka dengar aku bercerita. Sekarang kamu bahkan nggak tanya aku ngapain seharian." Aku terdiam. Karena semua itu benar. "Kamu mau pisah?" tanyaku menantang. Dia mengangguk pelan. "Iya. Kalau kamu nggak bisa cinta aku lagi... lepaskan aku. Jangan gantung aku." Kata-katanya membuat d**a ini seperti diremukkan. Tapi aku tahu, jika aku tak membuat keputusan malam ini, semua hanya akan semakin menyiksa. "Oke," kataku akhirnya. "Kalau itu yang kamu mau... aku jatuhkan talak malam ini." Dia menatapku dalam. Matanya penuh luka, tapi juga ada kekuatan. "Ucapkan," katanya. Aku menarik napas dalam-dalam. "Nadira Rahmani... dengan kesadaran penuh, aku, Damar Mahendra, menjatuhkan talak kepadamu malam ini." Setelah kalimat itu keluar... dunia terasa sunyi. Suara jam dinding berdetak seperti bom waktu. Aku menatap Nadira. Dia tak menangis kencang. Tapi tubuhnya gemetar. Bibirnya bergetar. "Mulai sekarang kamu bukan lagi istriku. Aku menceraikanmu." "Terima kasih," katanya lirih. Nadira berjalan ke kamar. Dan aku berdiri seperti batu. Aku mengemasi jaket, ponsel, dan dompet. Lalu keluar. Tak tahu harus ke mana. Aku tak merasa lega. Tak merasa bebas, hanya kosong. Saat pintu tertutup di belakang, aku sadar... aku mungkin telah kehilangan satu-satunya rumah yang benar-benar tulus mencintaiku. *** Aku meninggalkan rumah itu tanpa menoleh ke belakang. Udara malam menusuk paru-paruku seperti belati dingin. Tapi entah kenapa, ada rasa ringan yang menyelinap. Ringan karena selesai. Karena akhirnya aku mengucapkan yang selama ini hanya menggantung di tenggorokan: talak. Mobil melaju menuju apartemen yang sudah seperti rumah kedua bagiku belakangan ini. Kalya sudah tahu aku akan datang. Aku mengirim pesan singkat sesaat sebelum keluar dari rumah. Tak butuh waktu lama untuk sampai. Jalanan sangat lenggang di malam hari. Aku memasuki apartemen dengan langkah ringan. "Kal...." Begitu pintu terbuka, aroma parfum Kalya langsung menyergap hidungku—manis, tajam, dan menggoda. Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan senyum penuh kemenangan. “Sayangku…” Kalya memelukku erat tanpa ragu. Tubuhnya hangat, lengket seperti permen. “Akhirnya, ya? Kamu sudah bebas, kan?” Aku tak menjawab langsung. Hanya menanggalkan jaket dan melemparnya ke sofa. “Aku talak dia tadi,” ucapku datar. Kalya memekik kecil, seperti anak kecil dapat hadiah ulang tahun. “Ya ampun, akhirnya!” Kalya memutar tubuhku agar menghadapnya, kedua tangannya menggenggam wajahku. “Ini hari paling bahagia dalam hidupku, tau nggak?” Aku hanya mengangguk. Tapi anehnya, bukan bahagia yang kurasa. Lebih seperti… kelelahan. Aku duduk di ujung ranjang dan menyandarkan kepala ke dinding. Kalya sibuk mondar-mandir di dapur kecil, mengambil jus jeruk dan beberapa snack. “Aku udah masak sedikit. Nggak banyak sih, cuma telur dan nasi goreng. Kamu lapar, kan? Kamu tenang aja sekarang. Nggak ada lagi drama rumah tangga. Nggak ada lagi istri sok sabar yang cuma bisa ngeluh.” Aku menoleh sedikit. “Nggak usah bahas dia,” gumamku. “Udah selesai.” Kalya mencubit pipiku manja. “Iya, iya. Maaf. Aku cuma senang aja, akhirnya kamu milih aku.” Kupaksakan senyum, meski hatiku terasa ganjil. Dia duduk di sampingku, menyandarkan kepala di pundakku. “Kita bisa hidup bareng sekarang. Nggak usah sembunyi-sembunyi. Kamu tahu kan, aku udah siap dari dulu…” Aku mengangguk, sekali lagi. Sayangnya entah kenapa, apartemen ini mendadak terasa sempit. Dindingnya seperti menyerap pikiranku yang berhamburan. Kalya terus bicara tentang rencana ke depan, tentang liburan, dan tentang rumah impian. Tentang pesta kecil untuk merayakan ‘kebebasan’ku. Namun, aku cuma duduk diam. Mendengarkan, tapi tak benar-benar hadir. Pikiranku mengembara. Ke meja makan di rumah tadi. Ke tangan Nadira yang gemetar. Ke suara sendunya yang menantangku berpisah—dan aku menyambutnya dengan ego yang membabi buta. Kalya menggenggam tanganku erat. “Mulai sekarang, kamu milikku. Kita akan bahagia, Sayang.” Aku menoleh, menatap matanya yang penuh gairah dan rencana. Dan untuk sesaat, aku mencoba percaya. Bahwa ini adalah jalan yang benar. Meski di dasar hatiku… suara lirih Nadira tadi masih terngiang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN