Desas Desus

1082 Kata
Nadira Aku baru saja menata kue-kue di dalam toples kaca ketika suara bel pintu berbunyi. “Assalamu’alaikum…” “Wa’alaikumsalam,” jawabku sambil tersenyum. “Masuk aja, Mbak Dina.” Dina, istri Bripka Tegar, melangkah masuk dengan langkah mantap. Perempuan muda ini terkenal ramah dan aktif di lingkungan Bhayangkari. Tapi hari ini Dina agak berbeda. Wajahnya yang biasanya cerah tampak agak ragu. “Kebetulan aku baru lewat depan sini, jadi sekalian mampir. Suamiku lagi dinas malam juga,” katanya sambil duduk di sofa ruang tamu. Aku menuangkan teh manis ke dalam cangkir. “Iya, Mas Damar juga. Udah semingguan ini pulangnya selalu tengah malam,” jawabku pelan, mencoba terdengar biasa saja. Dina tersenyum, tapi ada sesuatu di balik itu. Aku menduga seperti ada beban yang belum terucap. “Nadira…” katanya, pelan sekali. “Kamu nggak keberatan aku tanya sesuatu?” Aku menoleh. “Tanya apa?” Dia tampak ragu. Jari-jarinya memainkan ujung kerudung. Lalu ia menarik napas panjang sebelum berbicara. Hal yang membuat aku agak curiga. “Kamu percaya kan, sama aku?” Aku mengangguk, meski hatiku mulai tak enak. “Aku nggak tahu ini benar atau nggak. Tapi suamiku semalam cerita sesuatu." "Ada apa?" tanyaku was-was. "Dia nggak bermaksud gosip, cuma khawatir. Dan karena kamu istrinya Pak Kapolsek… aku pikir kamu berhak tahu.” Aku meletakkan cangkir teh di meja. Jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang. “Apa maksudmu?” tanyaku dengan suara yang nyaris berbisik. Dina menunduk. “Mas Tegar semalam lihat Pak Damar dan Bu Kalya di kafe. Tengah malam. Saat sedang patroli.” Aku terdiam. Kafe? Tengah malam? Kalya? “Apa maksudmu… berdua?” tanyaku, nyaris tidak percaya. Dina mengangguk perlahan. “Dia lihat mereka duduk agak tersembunyi. Dekat. Seperti… bukan atasan dan bawahan.” Tenggorokanku terasa tercekat. Aku berusaha menelan ludah, tapi gagal. Aku memaksakan senyum. “Mungkin cuma mampir. Namanya juga patroli, bisa jadi butuh istirahat sebentar.” Dina memandangku penuh iba. “Iya… mungkin. Aku juga harap begitu. Tapi Mas Tegar bilang, ekspresi mereka nggak biasa. Dan… setelah pulang, beliau lihat kertas di papan pengumuman internal. Ada tulisan tentang pelanggaran etik.” Dunia seakan berputar perlahan di sekitarku. Pelanggaran etik? Damar? Suamiku? “Aku nggak ingin kamu salah paham. Tapi aku juga nggak tega diem aja,” ujar Dina lagi, memegang tanganku dengan lembut. “Maaf kalau aku salah.” Aku mengangguk lemah. Tidak. Kau tidak salah, Dina. *** Setelah Dina pulang, aku duduk sendirian di ruang tamu. Kue-kue di meja tidak lagi tampak menggugah selera. Bahkan aromanya membuatku mual. Kalya. Nama itu mulai sering kudengar dari Damar beberapa minggu terakhir. Dalam celetukan kecil. Dalam cerita-cerita sepintas tentang dinas. “Kalya cerdas, nggak semua polwan bisa segesit itu.” “Kalya ini tanggap.” “Kalya cepat belajar.” Tadinya aku pikir itu wajar. Mas Damar sebagai Kapolsek tentu perlu dekat dengan bawahan. Tapi sekarang… aku mulai mempertanyakan semuanya. Aku bangkit pelan, berjalan ke kamar. Di meja rias, aku melihat bayanganku sendiri di cermin. Wajahku pucat. Mataku berkaca-kaca. “Enggak, Dira. Jangan suudzon. Mungkin benar mereka hanya mampir. Jangan lebay,” gumamku pelan. Tapi kalimat itu terasa hampa. Karena hatiku tahu… ada sesuatu yang sedang berubah. Bukan hanya antara Damar dan Kalya. Tapi antara aku dan suamiku sendiri. *** Malam itu Mas Damar pulang lewat tengah malam. Aku sengaja tak tidur dulu. Menunggunya di ruang makan dengan meja yang sudah kutata rapi. Ikan bakar kesukaannya, sambal terasi, dan sayur asem. Saat pintu terbuka, aku segera berdiri. Tapi Mas Damar langsung masuk dengan langkah tergesa dan tidak menatapku sama sekali. “Hai, Mas…” sapaku lembut. “Hm,” hanya itu jawabannya. Aku menarik napas dalam. “Aku masak makanan favorit kamu. Mau makan dulu?” “Udah makan di luar. Lapar banget pas patroli,” jawabnya sambil melepas sepatu dengan kasar. Di luar? Kafe itu, mungkin? “Kalau begitu mau aku buatin teh anget?” “Gak usah. Aku ngantuk banget. Besok pagi ada briefing,” ucapnya lalu melangkah ke kamar. Aku tercekat. Kalimatnya pendek. Dingin. Seperti menutup ruang untukku. Aku berdiri di tengah ruang makan. Dengan meja yang masih penuh, lilin kecil yang sudah hampir habis, dan segunung rasa sesak yang menggunung di d**a. Aku mengejarnya ke kamar. “Mas…” panggilku pelan. Mas Damar yang sudah duduk di ranjang menatapku singkat. “Ada apa, Dira?” Aku ragu. Lidahku terasa kelu. “Kalya… dia sering bareng kamu ya, akhir-akhir ini?” Tatapannya berubah tajam. “Maksud kamu?” “Cuma tanya aja,” jawabku mencoba tetap tenang. Mas Damar mengalihkan pandangannya. “Dia anggota baru. Memang banyak tugas bareng. Itu biasa.” Aku menunduk. “Tadi sore Mbak Dina mampir. Dia cerita… suaminya lihat kalian di kafe. Tengah malam. Saat patroli.” Damar menegang. Sekilas. “Tegar cerita ke istrinya?” gumamnya lebih pada dirinya sendiri. “Mas…” aku mendekat. “Aku nggak nuduh apa-apa. Aku cuma mau tahu yang sebenarnya.” “Sudah aku bilang, kami cuma mampir. Selesai patroli,” katanya ketus. “Dan kalau kamu mulai mencurigai aku, lebih baik jangan bahas ini lagi.” Hatiku tercekat. “Mas, aku bukan curiga. Aku cuma... khawatir. Aku istrimu. Aku berhak tau apa yang terjadi.” Mas Damar berdiri dan menghampiriku. Wajahnya dingin. Matanya tajam. “Dira, kamu tahu apa tentang kerjaan aku? Kamu cuma diam di rumah, ngurus dapur. Jangan ikut campur hal-hal yang kamu nggak ngerti.” Aku terdiam. Kata-katanya seperti tamparan. Hati ini perih. Tapi aku menahan air mata. Mas Damar kembali duduk, membuka ponselnya. Sesekali tersenyum kecil, entah membaca apa. Atau membalas pesan siapa. Dan aku tahu… aku telah tergeser. Bukan karena aku kurang cantik. Tapi karena aku bukan lagi dunianya. Pukul dua dini hari. Aku terbangun dan menoleh. Tempat tidur di sebelahku kosong. Selimutnya masih rapi. Mas Damar tidak di kamar. Aku berjalan ke ruang kerja. Kosong. Ke dapur. Tidak ada. Aku mendekati ruang tamu. Hanya lampu kecil yang menyala. Lalu terdengar suara samar dari arah teras. Aku mengintip lewat celah tirai. Mas Damar duduk di bangku kayu teras… sedang menelpon. Wajahnya tersenyum. Matanya berbinar. “…iya, kamu juga hati-hati ya. Jangan pulang malam. Aku nggak tenang kalau kamu capek sendirian…” Deg. Suara itu… Lembut. Penuh perhatian. Bukan untukku. Dan aku tahu siapa yang sedang ia bicarakan. Tanganku mencengkeram tirai dengan gemetar. Air mataku menetes tanpa bisa kucegah. Kupandangi suamiku dari balik kaca. Lelaki yang pernah bersumpah akan menjagaku. Lelaki yang kini menyembunyikan senyum hanya untuk wanita lain. Hatiku hancur. Dan aku sadar… Ini bukan lagi tentang curiga. Tapi tentang pengkhianatan yang perlahan menjadi nyata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN