Semenjak kejadian tersebut, Arsen sudah tidak pernah memaksaku lagi untuk berangkat dan pulang bersama dengannya, walaupun kutahu, ia tetap menginginkan hal tersebut. Dan tidak dapat kupingkiri, aku pun—juga menginginkannya, namun aku tidak berani untuk mengatakannya, meskipun kuyakin ia sama sekali tidak merasa keberatan. Seperti biasa, hampir setiap hari aku akan pulang bersama dengan Arya, dan begitu pula dengan hari ini. Namun tadi, disaat—aku baru saja masuk ke dalam mobilnya Arya, aku tidak sengaja melihat Arsen yang sedang berjalan menuju mobilnya, tapi ia langsung menghentikan langkahnya saat melihatku yang memasuki mobil sepupunya, dan tidak sengaja—aku melipat tangan kanannya—yang dikepal dengan begitu kuat, seakan menunjukkan bahwa ia sedang merasa kesal, walaupun wajahnya terl

