Resepsi Pernikahan

1945 Kata

Laura tampak cantik dengan baju pengantin sederhana berhias manik-manik di sekeliling lehernya. Bima menatapnya tak berkedip sambil mulutnya dipenuhi senyuman manis. “Dari tadi senyum melulu Bim, nanti pegal loh bibirmu.” Kata Laura sambil duduk di pangkuan Bima. “ Aku sangat bersyukur, Ra. Penantianku nggak sia-sia. Setelah dua puluh tiga tahun dan harus melewati sebuah penyakit Anemia Aplastik, akhirnya kamu kembali ke sisiku. Rasanya tidak ada yang sebahagia aku sekarang ini. Rasanya aku memiliki satu dunia ini. Aku adalah lelaki paling bahagia sedunia hari ini, karena hari ini, kamu resmi menjadi milikku seutuhnya.” Bisik Bima sambil mencium pipi Laura. “ Aku juga sangat bersyukur Bima, menolak beberapa lamaran dari para dokter-dokter di Denmark. Aku juga bersyukur tidak jatuh cin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN