Sentuhan Penuh Luka

1251 Kata
Delima menggeliat saat merasakan ada sesuatu yang kasar menyentuh wajahnya. Gadis itu membuka mata dan mendapati Nando sedang duduk di sebelahnya. "Aku, dimana?" "Di kamarku," jawab Nando dingin. "Kamarmu?" "Kamu pingsan dan aku membawamu ke sini," jawab Nando tenang. "Orang itu?" tanya Delima ketakutan. Dia masih ingat kejadian di lorong dan itu benar-benar menyeramkan. "Dia sudah pergi. Mereka semua mundur karena aku menusuk ketuanya," jelas Nando. Delima mencoba bangun dan merasakan kepala yang pening. Nando membantunya duduk dan mengambilkan bantal untuk menyangga punggung. Hal yang tak pernah dia lakukan seumur hidup kepada wanita manapun. "Kamu mau makan?" tanya Nando kaku. Delima tersentak, lalu menggeleng. Suasana seketika hening. Keduanya tampak canggung. Apalagi Nando yang sejak tadi mencuri ciuman di wajah Delima. Sehingga menyebabkan gadis itu tersadar. "Nando...." "Ya?" "Apa kamu memiliki hutang?" tanya Delima ingin tahu. "Bukan urusanmu," jawab Nando tegas. "Jawab," pinta Delima. Nando membuang pandangan, lalu menarik napas panjang. "Apa kamu benar-benar ingin tahu?" Nando balik bertanya. Delima mengangguk dengan pasti. Dia benar-benar penasaran dengan bisnis apa uang dilakukan Nando, sehingga bisa memiliki rumah mewah dan anak buah sebanyak ini. "Aku merampas barang miliknya. Dan geng rival menganggapnya itu hutang," lirih Nando. "Apa itu?" "Ganja dan organ manusia." Delima terbelalak lalu menutup mulut karena tak percaya. Rasa takut kini menjalar hingga menutupi seluruh pori-pori kukitnya. "Aku mau kembali ke kamarku," lirih Delima dengan tatapan memohon. "Apa kamu takut?" Delima menunduk, enggan menjawab pertanyaan itu. Semua yang ada di rumah ini membuatnya takut. "Aku pergi sekarang." Tanpa menunggu persetujuan, Delima bergegas keluar dari kamar itu. Sementara, Nando hanya terdiam saat melihat istrinya menghilang. *** Hujan deras turun dengan cepat, menyelimuti malam dengan suara gemuruh yang menggema. Delima duduk di ruang tamu, menatap jendela yang basah oleh tetesan air hujan. Hujan, meskipun menyedihkan, membawa semacam kenyamanan yang sulit dijelaskan. Tiba-tiba, listrik padam, membuat ruangan menjadi gelap gulita. Delima terkejut, berdiri dari tempat duduknya. "Hujan pasti merusak kabel listrik lagi," gumamnya pelan. Delima mencoba mengingatkan diri bahwa ini jarang terjadi di rumah Nando, tetapi cukup seting di rumah orang tuanya. Delima berjalan menuju lorong, mencari senter atau sesuatu yang bisa memberinya penerangan. Namun langkahnya terhenti ketika suara langkah kaki di belakang membuatnya menoleh. Nando muncul dari kegelapan. Wajahnya samar-samar terlihat meskipun tidak ada cahaya. "Listrik padam?" tanya Nando dengan suara rendah. Delima mengangguk. "Iya. Sepertinya hujan merusak kabel listrik." Nando mendekat dan berdiri di sampingnya, tampak tenang meski dalam kegelapan. "Sepertinya kita terjebak di sini sebentar. Mau ikut ke ruang tamu?" Nando menawarkan, meski suaranya tak terlalu terdengar mengundang. Delima ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. Semenjak tahu apa yang selama ini dilakukan Nando untuk mengisi pundi-pundi uangnya, gadis itu enggan berdekatan. Mereka berjalan ke ruang tamu yang sunyi. Hanya ada suara hujan yang membasahi atap rumah. Tanpa suara apapun selain itu, perasaan canggung mulai memenuhi udara. Delima duduk di kursi sofa, mencoba menenangkan diri. Ia merasakan kehadiran Nando yang hanya beberapa meter darinya. Meskipun mereka sering berada di ruang yang sama, suasana malam ini terasa berbeda. Ada ketegangan yang tak bisa ia jelaskan. Nando duduk di kursi sebelahnya. "Kamu baik-baik saja?" tanya lelaki itu dengan lembut. Lebih lembut daripada yang biasanya ia tunjukkan. Delima menatapnya, terkejut oleh pertanyaan itu. "Aku... baik-baik saja." Delima tidak sepenuhnya yakin pada kata-katanya sendiri. Ia menahan napas, mencoba mencari-cari apa yang dirasakannya. "Kamu sendiri apa baik-baik saja, kan?" "Selalu baik-baik saja," jawab Nando dengan senyum tipis, meski terlihat sedikit kelelahan di wajahnya. "Kamu tahu, aku lebih sering berada di tempat-tempat seperti ini-gelap dan sepi." "Di tempat seperti ini?" Delima menoleh padanya, sedikit bingung. "Maksudmu tempat-tempat seperti rumah ini?" Nando mengangguk perlahan. "Ya, tempat-tempat yang tidak banyak orang tahu. Rumah ini lebih banyak menciptakan ketenangan untukku daripada yang orang kira." Delima mencerna kata-kata itu dalam diam. Gadis itu masih mencoba untuk bisa menerima kenyataan, bahwa dia telah berada dalam lingkaran kejahatan di tempat ini. Di tengah keheningan itu, hujan semakin deras. Suara gemericik air di luar membumbui setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Tiba-tiba, Nando berdiri dan berjalan ke arah lemari di sudut ruangan. Delima menatapnya dengan penasaran. Nando membuka lemari dan mengambil sebuah selimut tebal. Ia berjalan kembali ke arah Delima. Tanpa berkata apa-apa, meletakkan selimut itu di atas bahu istrinya. "Ini untukmu," kata Nando pelan. "Kamu mungkin merasa kedinginan." Delima terdiam sejenak, tak tahu harus berkata apa. Ia merasakan kehangatan dari selimut itu, walau sekaligus merasa takut. "Apa... kamu tidak kedinginan?" tanya Delima ragu. Matanya menatap Nando yang kini duduk kembali di sebelahnya, tetap dalam kegelapan. Nando hanya mengangkat bahunya, tak memberi jawaban langsung. "Aku sudah terbiasa dengan kedinginan," jawabnya dengan nada datar. "Tapi kamu, tidak seharusnya merasa kedinginan." Delima merasa hatinya bergetar, sesuatu yang baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Keheningan yang panjang meliputi mereka. Namun kali ini terasa nyaman, tidak menegangkan seperti sebelumnya. Ada rasa tenang yang mulai meresap di dalam diri Delima. Meskipun ia masih bingung dengan perasaannya sendiri terhadap Nando. "Harusnya memang begitu karena aku sudah menikah," lirih Nando sembari terkekeh. "Maksudnya?" "Aku seharusnya tak perlu merasa kedinginan karena sudah memiliki istri," jawab Nando yakin. "Aku tidak mengerti," ucap Delima mengalihkan pembicaraan. "Kamu istriku, kalaupun aku merasa kedinginan, bukankah tugasmu untuk menghangatkanku?" Delima tersentak, lalu merapatkan selimut. Jantungnya berdetak kencang mendengar kata-kata itu. Dalam gelap, Delima tak dapat membaca raut wajah Nando. Namun, dari suara seraknya, gadis itu tahu apa yang diinginkan suaminya. Nando semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka, sehingga Delima dapat merasakan hangatnya kehadiran lelaki itu. Nando mengulurkan tangan, menyentuh wajah Delima dengan lembut. Sentuhan itu membuatnya terkejut, tetapi ia tidak bisa menolak. "Nando?" gumam Delima pelan, menatap suaminya dengan mata penuh tanya. Nando tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, lalu memainkan anak rambut Delima yang terjatuh di sisi wajahnya. Jari-jarinya yang kasar tetapi lembut menyentuh rambut itu. Menyelipkannya ke belakang telinga istrinya dengan gerakan perlahan. "Kamu tahu tidak," kata Nando akhirnya, suaranya rendah dan tenang. "Kadang aku merasa bingung sendiri. Bagaimana bisa seseorang seindah kamu bisa menjadi milikku?" Delima merasakan dadanya berdegup kencang. Kata-kata Nando selalu memiliki cara untuk menyentuh hatinya, meski lelaki itu jarang mengungkapkan perasaannya secara langsung. "Nando, apa yang sebenarnya kamu pikirkan?" tanya Delima, mencoba mengalihkan perasaan gugupnya. Sebagai jawabannya, Nando menarik tubuh Delima ke dalam pelukannya. Gerakannya mantap, tetapi penuh kehati-hatian, seolah ia takut merusaknya. Delima terdiam, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu. Ia bisa merasakan detak jantung Nando, yang sepertinya berdetak seirama dengan miliknya. "Delima," bisik Nando di dekat telinganya, suaranya nyaris serak. "Aku ingin kamu tahu, kalau aku menginginkannya. Tapi aku tidak mau kamu melayaniku karena terpaksa. Jadi aku menunggu." Delima mendongak, menatap mata Nando yang kini terlihat begitu serius. Ia bisa melihat sesuatu di sana-kehangatan, keinginan, tetapi juga kontrol diri yang kuat. "Aku--" "Apa?" bisik Nando mesra. Nada suara lelaki itu berisi harap agar sang istri mau membuka hati. Selama ini, lelaki itu mencoba mati-matian untuk tak menyentuhnya. "Aku hanya butuh waktu untuk menerima semua ini." Nando menatap Delima lebih lama, seolah memastikan bahwa apa yang ia dengar adalah kebenaran. Lalu dengan perlahan, lelaki itu mendekatkan wajah. Gerakan itu memberi Delima cukup waktu untuk mundur jika ia tidak menginginkannya. Namun, gadis itu memilih untuk tidak bergerak. Saat bibir Nando menyentuh bibirnya, Delima merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan-hangat, lembut, dan penuh perasaan. Lelaki itu tidak terburu-buru, hanya berupa sentuhan ringan yang membuatnya merasa dihargai. Ketika akhirnya melepaskan diri, Nando menatap Delima dengan senyum kecil. "Aku sudah berjanji tidak akan pernah menyentuhmu tanpa izin. Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa aku selalu ada di sini untukmu, Delima." Delima hanya tersenyum, merasa hatinya hangat. Ia tahu bahwa Nando adalah lelaki yang menghormatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN