Rahasia di Balik Luka

914 Kata
Delima duduk di ruang tamu yang sunyi. Matanya melayang ke berbagai benda yang ada di sekitar. Rumah ini, meskipun megah, terasa sepi dan suram. Delima masih merasa asing di sini, meski sudah beberapa minggu tinggal bersama Nando. Sejak pertama kali datang, segala sesuatu terasa berat dan penuh ketegangan. Setiap kali Delima bertanya tentang masa lalu Nando, lelaki itu selalu menghindar. Tetapi kini, ada sesuatu yang mengusik rasa penasarannya. Sebuah album foto tua tergeletak di atas meja dekat jendela. Delima meraihnya dengan hati-hati, dan menolak untuk berpura-pura tak tertarik. Delima membuka album itu perlahan. Matanya mulai menyusuri halaman demi halaman, mencari tahu apa yang bisa ia temukan. "Nando?" Foto-foto keluarga Nando yang tampak bahagia muncul satu per satu. Namun wajah yang berbeda muncul di setiap gambar-seperti potongan puzzle yang belum lengkap. Dalam salah satu foto, Delima melihat sosok seorang wanita cantik dengan mata yang penuh kasih. Dan seorang anak kecil yang tersenyum lebar. Delima menebak itu adalah ibu dan adik Nando. Hati Delima berdebar. Tanpa sadar, ia terus membalik halaman demi halaman foto tersebut. Semakin mendalam masuk ke dunia yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Delima menemukan foto-foto lama yang terlihat seperti kenangan indah. Sebelum Nando menjadi lelaki yang sekarang-pemimpin geng dengan wajah yang penuh luka dan tatapan dingin. "Foto itu..." Delima mendengar suara berat dari belakang. Ia menoleh dengan cepat dan melihat Elang, berdiri di pintu. "Kamu menemukannya, ya?" Delima terkejut dan langsung menutup album itu. "Aku... hanya ingin tahu lebih banyak tentang Nando," jawab Delima sedikit gugup. "Dia... tidak pernah berbicara tentang masa lalunya." Elang mendekat dengan langkah tenang, senyumnya tipis. "Nando memang tidak suka berbicara tentang itu," kata Elang dengan suara rendah. "Tapi aku rasa, kau berhak tahu. Semua orang yang pernah dekat dengan Nando tahu tentang tragedi itu." Delima menatap Elang dengan penuh perhatian. "Apa yang terjadi pada keluarganya?" Elang menarik napas panjang, menunduk sejenak sebelum mulai bercerita. "Nando dulu punya kehidupan yang normal. Ibu, adik, dan ayah yang baik. Mereka hidup bahagia. Hingga sebuah kecelakaan besar terjadi." Delima menutup mulut karena tak percaya. "Keluarganya terbunuh dalam sebuah ledakan yang merenggut nyawa mereka saat Nando masih muda. Dan... itu adalah serangan dari orang-orang yang tak dikenal. Nando terluka parah dan wajahnya-" Elang menatap wajah Nando yang ada di gambar itu. "Terkena luka bakar yang mengubah hidupnya." Delima tercengang mendengar cerita itu. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Gadis itu hanya bisa membayangkan betapa menyakitkannya kehilangan keluarga dalam cara yang begitu brutal. "Lalu, apa yang terjadi setelah itu?" Elang mengangkat bahu. "Nando tidak pernah sama sejak kejadian itu. Dia berubah menjadi orang yang sangat berbeda-sangat tertutup dan penuh amarah. Dia mulai menyendiri, terobsesi dengan balas dendam. Semua orang yang ada di sekitarnya merasa takut," lanjut Elang sembari mencoba menyusun kata-kata. "Nando mulai terlibat dengan dunia yang lebih gelap, dengan orang-orang yang juga memiliki luka di masa lalu mereka. Tidak ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab atas ledakan itu. Dan Nando menghabiskan bertahun-tahun untuk mencari jawaban, yang tak pernah dia temukan." Delima merasa hatinya iba. Ini adalah sisi lain dari Nando yang tidak pernah ia bayangkan. Seorang lelaki dengan luka batin yang begitu dalam. "Jadi, itulah kenapa Nando menjadi seperti ini..." Delima bergumam, lebih pada diri sendiri. "Karena itu semua... itu sebabnya dia membenci dirinya sendiri." Elang mengangguk. "Itulah bagian dari ceritanya. Tapi Nando sangat menjaga diri. Dia tidak ingin ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Bahkan, orang-orang di sekitarnya hanya melihat sisi gelapnya-si pemimpin geng yang kejam. Delima mendengarkan dengan seksama tanpa menyela. "Tapi kalau kau lebih dekat dengan dia, kau akan tahu, dia bukan orang yang sepenuhnya jahat. Hanya... terluka." Elang menyentuh bahu Delima dengan lembut. Hal itu membuatnya terkejut. "Dan aku rasa, kamu sudah mulai melihat itu, bukan?" Delima terdiam sejenak, mencerna semua informasi yang baru saja didengarnya. Selama ini, ia hanya melihat Nando sebagai sosok yang menakutkan dan tidak bisa didekati. Sekarang, Delima merasa seperti membuka pintu menuju dunia yang lebih dalam. Di mana Nando bukan hanya seorang pemimpin geng yang bengis, tetapi juga seorang manusia yang penuh luka. "Apakah... dia akan baik-baik saja?" Delima bertanya pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Elang menatapnya dengan serius. "Aku harap begitu. Tapi, itu hanya bisa terjadi jika Nando membuka dirinya untuk orang lain. Dan itu sepertinya sulit." Delima menarik napas panjang. Ia tahu bahwa ia tidak bisa mengubah masa lalu Nando. Namun, dia merasa semakin terikat untuk mencoba mengerti dan membantu lelaki itu untuk menyembuhkan diri. Delima pun menyadari satu hal yang semakin jelas di hatinya. Nando bukan hanya lelaki yang kuat dan berbahaya. Dia juga seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan. Setelah Elang pergi, Delima duduk di samping meja, tangan menggenggam album foto itu. Nando tersenyum bahagia, dikelilingi oleh keluarganya yang penuh kasih. Gadis itu merasakan beban yang berat di dadanya. Mungkinkah dia bisa membantu Nando membuka hatinya? Mungkinkah dia bisa menjadi seseorang yang dapat menyembuhkan luka-luka dalam diri Nando? Delima menatap foto itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya menutup album tersebut dan meletakkannya kembali di meja. "Aku akan berusaha, Nando," gumamnya, suara penuh tekad. "Aku akan berusaha untuk menjadi seseorang yang bisa kau percayai." *** Delima terus menatap jendela kamar yang gelap. Pikiran tentang keluarga, saat mereka menyerahkannya kepada Nando demi membayar hutang, terus berputar-putar dalam benak. Rasa sakit itu begitu mencengkeram d**a hingga membuat Delima sulit bernapas. Namun, lebih dari itu, sosok Nando yang misterius kini mendominasi pikirannya. Sebuah suara keras tiba-tiba saja terdengar dari lantai bawah. Delima terlonjak dengan tubuh menengang. suara pecahan kaca dan teriakan samar membuat bulu kuduknya berdiri. "Apa yang trejadi di bawah sana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN