“Bayarnya di kasir, Mbak.”
Banyu menunjukkan arah kasir pada seorang wanita muda yang mengangsurkan beberapa lembar uang seratusan ke arahnya dengan sopan. Gesturnya seperti biasa, cuek dan tidak terlihat berlebihan. Namun, wanita itu malah menggeleng lemah.
“Bukan, Mas. Ini beda. Ini tip buat Mas Banyu,” potong wanita itu cepat, suaranya sedikit meninggi di antara deru mesin yang bising.
Ia melangkah lebih dekat, mengabaikan oli bengkel yang mungkin menodai flat shoes mahalnya. Tangannya masih terulur, menjepit tiga lembar uang seratus ribu yang kontras dengan kulit punggung tangannya yang bersih. Di matanya, ada binar yang sulit disembunyikan. Perasaan suka yang coba ditekan sedemikian rupa agar tak terlalu kentara.
Banyu yang sedang menyeka sisa oli di lengan berototnya dengan kain majun kusam, menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap wanita itu dengan sorot mata yang tenang dan menjaga jarak.
“Nggak usah, Mbak. Sudah tugas saya,” jawab Banyu rendah.
“Terima aja, Mas. Saya senang kok, mobil saya jadi enak lagi suaranya. Tolong, ya?”
Wanita itu bersikeras, tubuhnya condong ke depan, seolah ingin masuk ke dalam ruang pribadi Banyu. Sementara senyumnya tak redup barang sebentar saja.
Namun, sebelum Banyu sempat menolak untuk kedua kalinya, sebuah derap langkah kecil yang mantap membelah kesibukan bengkel. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun dengan kaos bergambar pahlawan super, tiba-tiba muncul dan berdiri tepat di samping kaki pria itu.
Anak itu melipat kedua tangan di d**a, lalu menatap sang wanita dengan tatapan selidik yang tajam.
“Tante jangan deket-deket sama Papaku!” serunya lantang.
Seketika, gerakan Banyu membeku. Ia menunduk, menatap bocah kecil yang kini tampak begitu posesif. Kening Banyu berkerut dalam, matanya membelalak tak percaya. Ia yakin betul, ia belum pernah melihat anak ini seumur hidupnya, apalagi mengakuinya sebagai putra.
Sementara wanita di depannya terhenyak. Tangannya yang memegang uang seketika berhenti di udara. Pendar di matanya meredup, berganti dengan rasa kaget dan kecewa yang kentara. Ia memandang bergantian antara Banyu yang tampak syok dan bocah kecil yang menatapnya penuh dengan aura permusuhan.
"Mas Banyu ... sudah punya anak?" tanya wanita itu dengan suara yang terdengar pelan dan hati-hati.
Banyu masih terpaku, mulutnya sedikit terbuka, tapi tak ada kata yang keluar. Ia ingin membantah. Namun, tatapan bocah kecil itu begitu nyata dan meyakinkan, seolah mereka memang memiliki ikatan darah yang tak terbantahkan.
"Dek, kamu ... kamu siapa?" bisik Banyu akhirnya, nyaris tak terdengar. Sementara si bocah justru menggembungkan pipinya agak kesal.
“Aku anakmu, Pa,” katanya.
Kali ini Banyu tersenyum. Ia lantas berjongkok demi mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil dengan mata sipit di hadapannya. Tangannya menopang pada lutut yang ditekuk sebelah. Sementara satunya menyentuh lantai.
“Anak? Aku bahkan belum menikah. Kok, bisa kamu bilang aku Papamu?” tanya Banyu gemas.
Bocah lelaki di hadapannya tampak berpikir sejenak, lalu menjawab pertanyaan Banyu dengan mantap.
“Ya, pokoknya Om itu Papaku. Lihat, kita sama-sama ganteng.”
Kali ini Banyu terkekeh. Ucapan bocah itu benar-benar spontan dan menggelitik urat tawanya. Kalau soal ganteng, itu memang sudah tidak bisa dinegosiasikan. Valid sejak masih dalam kandungan, tapi kemudian mengatakan bahwa mereka sama-sama tampan, membuat Banyu jadi gemas.
“Ha-ha-ha. Begitu. Oke, kalau gitu sekarang di mana Mama?”
Bocah itu menoleh ke belakang. Tatapan lurus ke arah seorang wanita yang berdiri dengan bersedekap tak jauh dari sana. Jari telunjuknya yang mungil terarah tepat kepada wanita itu.
“Itu Mama.”
Banyu mengikuti arah telunjuk kecil itu. Seketika, tawa yang baru saja meledak di tenggorokannya surut, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara deru mesin bengkel. Senyumnya lindap, berganti dengan tarikan napas yang tertahan.
Di tengah bengkel yang kontras dengan cahaya matahari sore, berdiri seorang wanita yang seolah datang dari dunia yang berbeda. Ia mengenakan A-line dress berwarna pastel yang jatuh lembut di bawah lutut. Membalut tubuh rampingnya dengan keanggunan yang bersahaja. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, jatuh melambai di bahu dengan ujung yang sedikit bergelombang, membingkai wajah yang selama ini hanya berani Banyu kunjungi dalam ingatan.
Banyu memindai sosok itu dengan tatapan tak percaya. Wajah itu masih sama, meski waktu telah memahat kedewasaan yang lebih matang di sana. Alisnya yang hitam dan terbentuk sempurna tampak berkerut tipis, senada dengan sepasang mata bulat yang kini menatap Banyu dengan binar yang sulit diartikan. Ada kerinduan, ada luka, dan ada keteguhan yang membeku di sana. Hidungnya yang bangir serta bibir tipis yang kini terkatup rapat seolah menyimpan ribuan kata yang tak sempat terucap selama bertahun-tahun.
Wanita itu berdiri tak bergeming, bersedekap dengan jemari yang saling meremas lengan gaunnya sendiri. Seolah-olah sedang menguatkan diri untuk tidak lari dari tempat itu. Di tengah riuh rendah suara kunci inggris yang beradu dengan lantai semen, dunia Banyu mendadak beku.
Suara Banyu yang biasanya tegas kini terdengar parau ketika nama itu ia gumamkan lirih.
"Wening!”
Wanita itu berjalan pelan demi mengikis jarak dengan Banyu. Langkahnya pasti, sebelum akhirnya bibirnya terbuka untuk mengkonfirmasi ucapan sang putra barusan.
“Dia anakmu,” katanya singkat.
Banyu tergemap. Kepalanya menggeleng pelan. Ia masih mencoba mencerna ucapan dari sang mantan kekasih yang dulu telah dikabarkan menikah dengan pria lain. Baru setelah perasaannya mampu ia kuasai, pria itu mulai bereaksi.
“Anakku? Kamu nikah sama orang lain dan bilang kalau dia anakku? Wening … ini nggak lucu,” katanya.
Senyumnya sempurna hilang. Banyu menatap wanita itu dengan nyalang usai sebaris bayangan masa lalu lewat dalam lobus frontalnya.
“Bumi memang anakmu, Nyu.”
Wening menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantung yang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia menatap Bumi yang kini ada di antara mereka. Lalu mendongak pada Banyu.
“Bumi memang anakmu, Nyu. Benihmu,” ulang Wening, suaranya bergetar penuh dengan ketegasan yang tak terbantahkan.
Banyu tertawa hambar, sebuah tawa getir yang penuh dengan nada sarkasme. Ia berdiri tegak, menyugar rambutnya yang sedikit berminyak dengan kasar.
“Anakku? Kita udah berakhir lima tahun lalu, Wen. Kamu pergi, kamu menikah dengan pria pilihan orang tuamu, dan sekarang kamu datang ke bengkel ini hanya untuk menunjuk anak kecil dan bilang dia anakku? Masuk akal dikit, dong!” katanya.
Wening mengikis jarak lagi. Aroma parfumnya yang lembut kini mulai beradu dengan bau oli yang menyengat.
“Aku pergi dalam keadaan mengandung Bumi. Dia lahir tujuh bulan setelah hari terakhir kita bertemu. Kamu bisa hitung sendiri kalau kamu mau.”
Banyu tertegun. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang saat ia mencoba memproses informasi yang menghantamnya seperti palu godam. Matanya beralih ke arah Bumi yang memiliki bentuk mata sipit dan garis rahang yang ... sial, sangat mirip dengan cerminannya sendiri.
“Nggak mungkin. Terus kenapa baru sekarang kamu bilang ke aku?” ucapnya sedikit geram.
Wening menatap lurus ke dalam manik mata Banyu. Ia mengabaikan tatapan penasaran dari wanita pemilik mobil yang tadi menggoda Banyu, juga bisik-bisik rekan kerja Banyu di sudut bengkel.
“Aku nggak datang untuk minta kamu balik sama aku. Aku juga nggak butuh tanggung jawabmu untuk hidupku,” tegas Wening dengan nada yang mendadak dingin, tapi sarat akan luka.
Ia menjeda kalimatnya, lalu menunjuk ke arah Bumi yang masih menatap Banyu dengan binar pemujaan.
“Aku datang cuma karena Bumi terus menanyakan siapa Papanya. Dia berhak tahu kebenaran soal siapa ayahnya, dan kamu berhak tahu kalau kamu punya seorang putra. Aku di sini untuk dia, bukan untuk diriku. Jadi, terserah kamu mau percaya atau tidak.”
Banyu terdiam, lidahnya mendadak kelu. Di bawah sana, Bumi menatap Banyu dengan nanar, menuntut perhatian dari sosok yang baru saja ia klaim sebagai pahlawannya.
Tak ada yang bisa mengulang waktu. Namun, jika benar bocah itu adalah darah dagingnya, mana bisa ia diam saja begini. Banyu lantas mendongak, lalu menatap Wening dengan saksama.
“Aku butuh bukti, Wening. Kita lakukan tes DNA,” kata Banyu kemudian.