7 | Rasa yang Pernah Ada

1230 Kata
Banyu menghentikan gerakannya yang hendak membawa piring kotor ke dapur kecil di belakang. Ia berbalik, menatap Wening dengan sebelah alis terangkat, seolah-olah sedang menguji apakah wanita di depannya ini hanya sedang terbawa emosi atau benar-benar kehilangan akal sehatnya. “Yakin? Ini bukan kasur hotel, Wen. Cuma ambal sama kasur lantai tipis,” sindir Banyu, suaranya rendah tapi ada getar yang tertahan di sana. Wening telanjur basah. Harga dirinya yang setinggi langit tak membiarkannya menarik kata-kata, apalagi di depan mata bulat Bumi yang kini menatap mereka penuh harap. “Nggak masalah. Daripada aku nekat nerobos hujan dan banjir, terus mobilku mogok di jalan. Itu malah lebih susah, kan?” sahutnya. Banyu hanya mendengkus, meski sebenarnya detak jantungnya makin tak keruan. Ia melangkah ke dapur, membiarkan bunyi gemericik air keran menyamarkan kegelisahannya. Sementara di ruang tengah, Bumi bersorak kecil dan langsung menarik tangan Wening untuk duduk lebih dekat ke tengah ambal. Hujan di luar kian mengamuk, menghantam atap seng kontrakan dengan irama yang memekakkan telinga. Suara guruh sesekali menggelegar, menggetarkan kaca jendela yang tampak rapuh. Di dalam ruangan sempit itu, oksigen terasa kian menipis. Atmosfer seperti disedot habis oleh ketegangan yang membeku di antara Banyu dan Wening. Bumi sudah terlelap pulas. Bocah kecil itu meringkuk di atas kasur lantai tipis, napasnya teratur dan tenang, kontras dengan gejolak batin dua orang dewasa di sekitarnya. Banyu bangkit berdiri. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Wening yang sedang merapikan selimut Bumi berjengit kecil. Pria itu melangkah mendekat ke arah jendela, tepat di belakang posisi Wening duduk. Niatnya sederhana, ia hanya ingin memastikan gorden lusuh itu tertutup rapat agar angin malam dan tempias hujan tidak mengenai tubuh mungil putra mereka. Namun, Wening yang sedang dalam mode defensif tingkat tinggi langsung menegang. Baginya, setiap inci pergerakan Banyu adalah ancaman bagi benteng pertahanan yang sudah ia bangun susah payah. Aroma maskulin khas Banyu dan hangat tubuh pria dewasa, mendadak menyerbu indra penciumannya. "Nggak usah deket-deket, Nyu!" cetus Wening tajam. Ia menggeser duduknya dengan kikuk, menjauh hingga punggungnya nyaris menempel pada dinding dingin kontrakan. Matanya menatap Banyu dengan nyalang, penuh peringatan. "Tutup gordennya dari sana aja, jangan sengaja mendekat,” katanya lagi. Langkah Banyu terhenti. Tangannya yang sudah meraih ujung kain gorden membeku di udara. Ia menoleh, menatap Wening dengan rahang yang mengeras. Rasa kesal yang sejak pagi ia tekan, mulai dari kemunculan Barata yang angkuh hingga sikap dingin Wening yang seolah menganggapnya orang asing, mendadak mendidih di puncak kepalanya. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa rindu yang meronta, sebuah kerinduan yang sangat hebat hingga terasa menyakitkan. Alih-alih menjauh seperti yang diminta, Banyu justru menjatuhkan kain gorden itu dan melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. "Nyu, aku bilang ja–" Kalimat Wening terputus. Dengan satu gerakan cepat yang tak terduga, Banyu menumpukan kedua tangannya di dinding, tepat di sisi kiri dan kanan kepala Wening. Ia mengunci tubuh wanita itu dalam kungkungan lengannya yang kekar. Jarak mereka kini tersisa sangat tipis, hingga Wening bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Banyu dan deru napas pria itu yang memburu di keningnya. "Kenapa? Kamu takut?" bisik Banyu, suaranya parau, rendah, dan sarat akan emosi yang bergejolak. Wening terengah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia mencoba memalingkan wajah, tapi tatapan Banyu memiliki magnet yang memaksa matanya untuk tetap terkunci pada iris pria itu yang hitam pekat dan berkilat. Di sana, Wening tidak hanya melihat amarah, tapi juga luka yang menganga lebar. "Lepasin, Nyu. Jangan keterlaluan," bisik Wening. Suaranya bergetar hebat. Gengsinya masih mencoba bertahan di antara sisa-sisa kewarasannya. "Kita harus jaga jarak,” imbuhnya. Banyu tertawa getir. Tawa yang terdengar menyakitkan di telinga Wening. Ia justru semakin menundukkan wajahnya, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Wening bisa melihat dengan jelas guratan lelah di wajah Banyu, juga bekas luka kecil di dekat alisnya yang membuatnya tampak semakin maskulin. "Jaga jarak?" ulang Banyu dengan nada sarkasme yang kental. "Bukannya dulu kita pernah jauh lebih dekat daripada ini, Wen? Bukannya dulu kamu yang paling suka kalau aku memelukmu seperti ini?" ucap Banyu. "Itu dulu! Lima tahun yang lalu!" seru Wening tertahan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Ya, lima tahun yang lalu. Sebelum kamu pergi tanpa kata, sebelum kamu membiarkan aku gila mencari tahu apa yang terjadi, dan sebelum kamu muncul lagi dengan membawa seorang anak yang ternyata adalah darah dagingku!" Suara Banyu sedikit meninggi, tapi ia segera menekannya kembali agar tidak membangunkan Bumi. Cengkeraman tangan Banyu di dinding menguat. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya seirama dengan detak jantung Wening yang bisa ia rasakan dari kedekatan ini. Rasa rindu yang ia pendam selama ribuan malam kini meledak, beradu dengan rasa tidak terima atas segala rahasia yang disimpan Wening. "Kamu pikir aku batu, Wen? Kamu pikir aku mesin yang nggak punya perasaan?" bisiknya. Banyu menatap bibir Wening yang gemetar, ada dorongan gila untuk meraup bibir itu dan melampiaskan segala rindu, tapi ia menahannya kuat-kuat. "Kamu datang, mengacaukan duniaku, lalu memintaku untuk tetap diam dan menjaga jarak seolah kita hanya dua orang asing yang kebetulan bertemu di halte bus? Kamu jahat, Wen. Kamu beneran jahat." Wening memejamkan mata erat-erat, membiarkan satu tetes air mata jatuh melewati pipinya. "Aku punya alasan, Nyu." "Alasan apa? Gengsi? Atau karena pria berjas tadi yang menurutmu lebih layak jadi ayah Bumi daripada montir dekil sepertiku?" Banyu semakin merapatkan tubuhnya, membuat Wening benar-benar terhimpit antara dinding dan tubuh pria itu. Keintiman yang dipaksakan ini membangkitkan memori-memori lama tentang sentuhan, tentang bisikan cinta di bawah langit malam yang sama, tentang janji-janji yang ternyata berakhir jadi abu. Banyu bisa merasakan tubuh Wening yang gemetar di bawah kungkungannya. Di satu sisi, ia ingin terus marah, ingin menuntut penjelasan hingga Wening tak punya celah untuk berbohong lagi. Namun di sisi lain, aroma parfum Wening yang masih sama seperti dulu, kehangatan yang ia rasakan dari napas wanita itu, membuat pertahanannya runtuh secara perlahan. Tangannya yang semula menempel di dinding, perlahan bergerak. Jari-jari kasarnya khas pekerja keras itu menyentuh dagu Wening, mengangkatnya agar wanita itu kembali menatapnya. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan penuh dengan keraguan dan kasih sayang yang masih tersisa banyak. "Jangan minta aku jauh, Wen. Jangan sekarang," gumam Banyu. Suaranya kini berubah menjadi permohonan yang menyayat hati. Matanya memindai setiap inci wajah Wening. Alisnya yang melengkung indah, bulu matanya yang basah, dan bibirnya yang selalu menjadi favorit Banyu. "Setiap detak jantungku malam ini hanya memanggil nama kamu. Dan aku benci kenyataan kalau aku masih merindukanmu sehebat ini,” ucap Banyu jujur. Wening membuka mata, menatap Banyu dengan pandangan yang kini lebih lunak. Gengsi yang tadi ia agungkan seolah mencair di bawah intensitas tatapan Banyu. Ruangan itu terasa semakin panas meski di luar hujan sedang mengguyur malam dengan dinginnya. Mereka terjebak dalam pusaran emosi yang sama. Kerinduan yang berbalut amarah, dan cinta yang terselubung dalam gengsi. Di atas ambal tipis itu, di bawah remang lampu kontrakan yang sedikit berkedip, Banyu dan Wening berada alam kebisuan yang sangat panjang. Hanya ada suara napas mereka yang saling bersahutan dan bunyi hujan yang tak kunjung reda. Perlahan, meleburkan setiap ego yang masih melingkupi hati masing-masing. Dengan perlahan, Banyu memejamkan mata. Bibirnya yang sejak tadi mengungkapkan isi hati kini mengikis jarak dengan bibir Wening yang setengah terbuka. Ketika kemudian pagutan itu berhasil melindapkan segala dinding pertahanan yang dibangun apik sejak awal pertemuan setelah lima tahun berpisah. Satu desah terselip di antara deru napas keduanya. Saat kemudian petir menyambar dengan dahsyat tepat saat tangan Banyu turun dan merapatkan pinggang Wening ke tubuhnya. “Banyu …,” bisik Wening pasrah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN