20 | Tangan Malaikat

1511 Kata
"Sari, aku akan segera ke sana. Tolong tahan beliau, jangan sampai pergi. Pastikan berikan layanan terbaik di ruang tamu utama. Aku berangkat sekarang!" kata Wening. Suara Wening terdengar mendesak, hampir terengah karena detak jantungnya yang mendadak memacu kencang. Ia memutus sambungan telepon dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Pikirannya seolah ditarik ke berbagai arah, antara rasa lega karena operasi ayahnya sukses, dan rasa tidak percaya atas kabar baik yang tiba-tiba muncul di kantornya saat fajar bahkan belum menyingsing sempurna. Wening menoleh ke arah Banyu, matanya yang sembap kini memancarkan binar tekad yang baru. "Nyu, aku harus ke kantor sekarang. Ada seseorang yang mau bicara soal utang-utang Papa. Aku nggak tahu siapa, tapi ini kesempatan terakhir untuk menyelamatkan usaha keluarga,” ujarnya. Banyu segera menegakkan punggungnya, sorot matanya yang tenang menjadi penyemangat bagi Wening yang sedang dilanda gelebah saat ini. "Aku antar biar cepat, jalanan jam segini mulai padat,” sahut Banyu seraya menggandeng tangan Wening. Namun, langkah mereka tertahan oleh suara decihan sinis dari arah belakang. Aditi berdiri dengan tangan terlipat di d**a, wajahnya yang penuh riasan itu tampak kuyu tapi tak kehilangan tajamnya. "Mbak, kamu itu naif atau bodoh? Mana ada orang di dunia ini yang mau bayarin utang miliaran cuma-cuma tanpa alasan dan imbalan? Jangan-jangan itu cuma modus penipuan baru, atau malah orangnya Barata yang sengaja mau ngetes kamu. Mending kamu sadar diri, Mbak. Yang nyata-nyata punya uang itu cuma Mas Barata,” sindir Aditi dengan nada meremehkan. Wening menarik napas panjang, tapi kali ini ia tidak membiarkan kata-kata adiknya menusuk hatinya. Ia memilih untuk abai, tidak ingin membuang energi untuk perdebatan yang hanya akan menguras sisa kekuatannya. "Ayo, Nyu. Kita pergi sekarang," ajak Wening tanpa menoleh lagi ke arah Aditi yang masih merutuk di koridor rumah sakit. Banyu menurut, ia mengikuti langkah cepat Wening menuju parkiran. Motor sport-nya segera menderu, membelah udara pagi yang masih terasa dingin menusuk kulit. Di atas motor, Wening memeluk pinggang Banyu erat, menyandarkan kepalanya di punggung kokoh pria itu sambil berteriak kecil melawan deru angin. "Nyu! Kira-kira siapa, ya, orang itu? Aku takut kalau ternyata dia kasih syarat yang aneh-aneh lagi kayak Barata. Kalau dia minta aku nikah sama dia atau minta saham mayoritas secara paksa, aku bakal langsung nolak!" seru Wening. Banyu hanya mengangguk pelan, sebuah senyum tipis tersungging di balik helmnya. Ia tidak bersuara, hanya fokus memacu kendaraannya menembus kemacetan dini hari. Di dalam hati, Banyu terkekeh diam-diam. Ia tahu persis siapa yang sedang duduk manis di ruang tamu kantor Wening. Candra, orang kepercayaannya, sudah bergerak sesuai dengan instruksi rahasia yang ia berikan sebelum mereka ke rumah sakit tadi. Sesampainya di gedung kantor yang tampak kusam di bawah cahaya pagi, Wening turun dengan terburu-buru. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari Banyu, menarik pria itu masuk ke dalam gedung, melewati lobi, hingga sampai di depan ruang kerjanya. Sari, sekretarisnya, menyambut dengan wajah sumringah dan penuh tanda tanya. "Beliau sudah ada di dalam ruang tamu VIP, Mbak," bisik Sari. "Tunggu sebentar, Sari. Aku mau rapikan diri dulu," jawab Wening. Ia menoleh ke Banyu. "Nyu, tunggu di sini sebentar, ya? Aku mau ke kamar mandi sebentar buat cuci muka dan ganti baju yang lebih layak. Aku nggak mungkin ketemu investor dengan keadaan berantakan begini." Banyu mengangguk santai. "Iya, Sayang." Setelah pintu ruang kerja tertutup dan Wening masuk ke dalam kamar mandi pribadinya, Banyu segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ia menekan satu nama di daftar kontaknya dengan tenang. "Halo, Pak Candra. Kamu sudah di posisi?" bisik Banyu begitu telepon diangkat. "Sudah, Mas. Saya sudah di ruang tamu VIP. Berkas-berkas pelunasan dan kontrak investasi sudah siap di atas meja. Saya hanya tinggal menunggu instruksi terakhir Anda," jawab suara di seberang sana dengan nada sangat formal. "Bagus. Jalankan sesuai rencana. Jangan sebut namaku dulu. Katakan saja kamu perwakilan dari investor yang sangat menghargai integritas Pak Mahesa. Dan ingat, perlakukan Wening dengan hormat. Jangan sampai dia curiga," perintah Banyu lugas. "Dimengerti, Mas." Banyu memutus sambungan tepat saat pintu kamar mandi terbuka. Wening keluar dengan penampilan yang jauh berbeda. Ia telah mengganti pakaian rumahnya dengan setelan blazer wanita karir yang ia simpan di kantor untuk keadaan darurat. Wajahnya yang tadi pucat kini telah dipoles sedikit riasan, menyamarkan bekas tangis tapi tetap memancarkan kelelahan yang elegan. Banyu terpaku sejenak. Ia menatap Wening dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu cantik banget, Wen,” katanya. Wening merasakan pipinya memanas. Pujian Banyu selalu punya cara untuk membuatnya merasa spesial, bahkan di tengah badai masalah. "Nyu, jangan bikin aku makin gugup. Doakan aku, ya, supaya pertemuan ini lancar dan orang itu benar-benar malaikat, bukan iblis berseragam jas,” jawab Wening. Wening menghela napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya yang bergemuruh. "Aku masuk dulu, ya. Aku akan segera balik kalau urusannya sudah selesai." "Iya, Wen. Semangat. Aku di sini, nunggu kamu," jawab Banyu sembari melepas tangan Wening dengan lembut, membiarkan wanita itu melangkah menuju ruang tamu VIP untuk menemui takdir baru yang sudah ia siapkan secara rahasia. Wening berjalan dengan langkah mantap, meski tangannya masih sedikit dingin. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu itu, bukan hanya masa depan perusahaannya yang akan berubah, tapi seluruh hidupnya akan segera terseret ke dalam kenyataan tentang siapa sebenarnya Banyu, pria yang selama ini ia anggap hanya seorang montir sederhana tapi berhati emas. *** Wening menarik napas panjang di depan pintu kaca, mencoba menetralkan degup jantungnya sebelum mendorong kenop pintu. Setelah melangkah masuk, ia disambut oleh aroma kopi mahal dan sosok pria paruh baya yang mengenakan setelan jas abu-abu arang yang sangat rapi. Pria itu berdiri, memberikan anggukan hormat yang sangat sopan. "Selamat pagi, Ibu Wening Angesti. Saya Candra," sapa pria itu dengan suara bariton yang tenang namun berwibawa. "Selamat pagi, Pak Candra. Mohon maaf atas keterlambatan saya. Sekretaris saya bilang ... Anda berniat membantu perusahaan kami?" tanya Wening langsung. Candra mempersilakan Wening duduk, lalu membuka sebuah koper kulit di atas meja. Ia mengeluarkan setumpuk dokumen resmi yang sudah dibubuhi materai. "Langsung ke intinya saja, Ibu Wening. Saya mewakili atasan saya untuk melunasi seluruh utang jatuh tempo PT Mahesa Perkasa hari ini. Selain itu, kami sudah menyiapkan dana segar sebagai suntikan modal agar operasional perusahaan kembali stabil,” jelas Candra. Mata Wening membelalak. Ia menatap angka-angka yang tertera di dokumen tersebut, angka yang cukup untuk membuat kepalanya pening, tapi kini angka itu adalah penyelamatnya. “Tapi ... kenapa, Pak? Kenapa atasan Anda mau melakukan investasi sebesar ini tanpa jaminan apa pun? Apa imbalan yang Anda minta?" tanya Wening. Candra tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat profesional. "Atasan saya percaya bahwa perusahaan ini memiliki pondasi yang kuat. Kami yakin PT Mahesa akan berkembang pesat setelah krisis ini berlalu. Tidak ada syarat apa pun, tidak ada pengambilalihan saham secara paksa. Kami hanya ingin melihat perusahaan ini berdiri tegak kembali,” jelas Candra lagi. Wening merasa seolah ada beban berton-ton yang baru saja diangkat dari bahunya. Ia hampir tidak bisa menahan air matanya. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang. "Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak. Saya ... saya tidak tahu harus bicara apa." "Tidak perlu berterima kasih pada saya, Ibu Wening. Saya hanya menjalankan amanah," ujar Candra sembari bangkit dan merapikan kembali tasnya. "Semua dokumen ini sudah sah. Saya permisi dulu." Begitu Candra keluar, Wening mematung sejenak, menatap tumpukan kertas di depannya seperti sedang menatap mukjizat. Tanpa menunggu lama, ia berlari keluar ruangan, menuju ruang kerjanya di mana Banyu sedang bersandar tenang di dekat jendela. "Nyu!" Wening langsung menghambur ke pelukan Banyu, memeluk pinggang pria itu dengan sangat erat hingga napasnya tersengal. "Hey, pelan-pelan, Sayang. Gimana?" tanya Banyu, tangannya melingkar protektif di punggung Wening, mengusapnya perlahan. "Semuanya beres, Nyu! Pak Candra ... dia benar-benar malaikat. Semua utang Papa lunas, dan kita dapet modal baru tanpa syarat aneh-aneh! Kita selamat, Nyu! Perusahaan Papa selamat!" seru Wening di sela isak tangis bahagianya. Ia membenamkan wajahnya di d**a bidang Banyu, menghirup aroma maskulin yang selalu menenangkannya. Banyu tersenyum lebar, ia mencium puncak kepala Wening dengan penuh rasa syukur. "Aku udah bilang, kan? Semuanya akan baik-baik saja kalau kita hadapi bersama." Banyu perlahan merenggangkan pelukan, memegang kedua bahu Wening dan menatap dalam ke mata wanita itu yang masih basah. "Wen, sekarang semuanya sudah selesai. Masalah Barata, masalah utang, dan Papa kamu juga sudah ditangani tim medis terbaik,” kata Banyu. Banyu menarik napas panjang, sorot matanya berubah menjadi sangat serius sekaligus hangat. "Sekarang, aku mau tanya satu hal lagi. Apa kamu mau nikah sama aku? Kita mulai semuanya dari awal lagi. Bukan sebagai pelarian, tapi sebagai keluarga yang utuh buat Bumi. Kamu mau?" Wening tertegun, lalu sebuah senyum tulus merekah di bibirnya. Tanpa ragu, ia mengangguk mantap. "Iya, Nyu. Aku mau." Banyu tidak menunggu sedetik pun untuk memangkas jarak. Ia menangkup wajah Wening, membawa bibir wanita itu ke dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh damba. Kali ini tidak ada lagi rasa ragu atau takut yang membayangi. Ciuman mereka menjadi segel atas janji masa depan yang baru, sebuah kehangatan yang merambat hingga ke relung jiwa, membuktikan bahwa cinta yang sempat patah lima tahun lalu kini telah kembali utuh di tempat yang seharusnya. “Aku cinta kamu, Wening,” bisik Banyu di sela napasnya yang memburu panas hingga mendorong tubuh Wening ke dinding sedikit kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN