17 | Tercyduk Oleh Bumi

1421 Kata
“Wajahmu merah, Sayang.” Ucapan Banyu yang terdengar begitu rendah dan serak di dekat telinganya membuat Wening merasa seolah sekujur tubuhnya dialiri arus listrik. Ia jengah, benar-benar malu hingga ke tulang-tulangnya. Dengan gerakan refleks yang sedikit kaku, ia mendorong d**a bidang Banyu, lalu membalikkan badan, membelakangi pria itu. Ia berpura-pura merapikan kerah blusnya yang sebenarnya tidak berantakan, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang seolah ingin meledak. Namun, Banyu bukan tipe pria yang mudah menyerah. Ia melangkah maju, menghapus jarak yang baru saja diciptakan Wening. Sepasang lengan yang kokoh dan hangat itu melingkar sempurna di pinggang Wening, menarik punggung wanita itu agar bersandar pada dadanya. Banyu menumpukan dagunya di bahu Wening, lalu mendaratkan ciuman-ciuman kecil yang lembut di ceruk lehernya, membuat Wening memejamkan mata dan menarik napas pendek. "Aku serius, Wen. Setelah aku tahu kalau Bumi itu benar-benar darah dagingku, aku merasa harus jauh lebih berhati-hati. Aku nggak mau ceroboh lagi kayak pas kita masih muda dulu. Kecerobohanku saat itu bikin orang yang paling aku sayang menderita sendirian selama lima tahun,” bisik Banyu, suaranya kini terdengar lebih dalam dan penuh emosi. Wening tertegun. Ia tahu siapa yang dimaksud Banyu. Luka lama yang selama ini ia balut dengan kemandirian dan sikap keras kepala mendadak terasa berdenyut. Namun kali ini rasa sakitnya dibasuh oleh pengakuan tulus dari pria yang memeluknya. Ia memegang tangan Banyu yang bertautan di perutnya, meremasnya pelan. "Kalau seandainya dulu kamu tahu, Nyu ... apa yang akan kamu lakukan? Waktu itu kita bahkan baru saja lulus SMA. Kita nggak punya apa-apa. Kita cuma dua anak remaja yang terlalu berani bermain api,” tanya Wening pelan, suaranya nyaris berbisik. Banyu tidak langsung menjawab. Ia memutar tubuh Wening agar kembali menghadapnya. Dengan lembut, ia menangkup wajah Wening, memaksa wanita itu menatap tepat ke dalam manik matanya yang berkilat penuh kesungguhan. "Aku akan lakukan apa pun, Wen. Apa pun," tegas Banyu. "Aku akan kerja apa aja, aku akan pulang ke Papa lebih cepat, atau aku akan sujud di kaki orang tuamu setiap hari sampai mereka mengizinkan aku menjagamu. Asal kamu dan Bumi nggak kesusahan. Asal kalian bahagia." Banyu menghela napas panjang, sorot matanya meredup oleh rasa bersalah yang teramat dalam. "Pas tahu kalau selama ini kamu berjuang sendirian, membesarkan Bumi di tengah tekanan keluargamu ... aku merasa benar-benar nggak berguna. Andai aja dulu aku nggak percaya gitu aja sama apa yang Aditi katakan. Andai aja aku lebih yakin kalau cinta kamu ke aku jauh lebih kuat daripada ancaman Papa kamu, aku nggak akan menyesal sedalam ini. Aku nggak akan membiarkan lima tahun kita hilang cuma karena egoku yang terluka." Jemari Banyu mengusap sudut mata Wening yang mulai basah. Menghapus jejak kesedihan yang mungkin ia juga yang menciptakannya. "Aku benar-benar cinta sama kamu, Wen. Bahkan setelah perpisahan pahit itu, aku nggak pernah berpikir untuk cari wanita lain. Nggak pernah ada perempuan lain di tempat ini," Banyu menuntun tangan Wening ke arah jantungnya yang berdegup kencang. "Dan aku nggak akan melepaskan kamu lagi. Nggak untuk kedua kalinya." Kata-kata itu menjadi pemantik bagi rindu yang sudah mencapai puncaknya. Wening tidak lagi menahan diri. Ia yang biasanya menjaga martabat dan jarak, kini menjadi pihak yang lebih dulu menarik kerah kemeja Banyu, membawa bibir pria itu kembali ke miliknya. Kali ini, ciuman mereka bukan lagi sekadar tautan bibir yang manis, melainkan sebuah percakapan tanpa kata tentang kerinduan, rasa sakit, dan gairah yang telah lama dipadamkan secara paksa. Wening menarik Banyu menuju ambal tipis yang terhampar di ruang tengah. Ia tidak ingin digantung oleh kendali diri Banyu yang terlalu kuat. Ia butuh kehangatan itu. Ia butuh kepastian bahwa pria di depannya ini nyata, bukan sekadar bayangan dari masa lalu. Keberanian yang jarang ia miliki mendadak muncul saat jemarinya bergerak lincah menuju ritsleting celana Banyu. Napas mereka memburu, bersahutan di tengah keheningan kontrakan yang mendadak terasa begitu sempit dan panas. Namun, tepat saat gairah itu nyaris mencapai puncaknya, suara deru mesin mobil yang familiar terdengar memasuki halaman. Cahaya lampu mobil menembus kaca jendela, menyapu ruangan itu dengan kilatan yang mendadak menyentak kesadaran mereka. Suara pintu mobil ditutup terdengar begitu keras di telinga mereka yang sedang dipenuhi debaran jantung. "Bumi datang!" bisik Wening panik. Ia segera menarik tangannya dan membetulkan pakaiannya dengan gerakan serampangan. Banyu pun tak kalah kalang kabut. Ia bangkit dengan cepat, membetulkan ikat pinggang dan menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jari gemetar. Mereka baru saja berhasil duduk dengan jarak yang lumayan sopan saat pintu depan terbuka lebar. "Mama! Papa! Lihat, Bumi punya robot besar!" seru Bumi dengan riang, berlari masuk sambil menjinjing tas belanjaan besar berisi mainan dan berbagai macam jajanan. Di belakangnya, Bhaga melangkah masuk dengan langkah mantap. Pria tua itu tidak langsung bicara, tapi matanya yang tajam segera menangkap gelagat yang tidak biasa. Ia melihat Wening yang terus menunduk dengan wajah semerah tomat, dan Banyu yang tampak sibuk mengatur napasnya sembari berpura-pura membantu Bumi membuka bungkus mainan. Bhaga berdeham keras, sebuah suara yang cukup untuk membuat Banyu tersentak kecil. "Mainannya sudah banyak, Bumi. Sekarang cuci kaki dan tidur," perintah Bhaga yang langsung dituruti oleh cucunya dengan patuh. “Iya, Opa.” Setelah Bumi masuk ke dalam kamar, Bhaga beralih menatap Banyu dan Wening yang masih mematung. Ia menyilangkan tangan di d**a, memerhatikan suasana ruangan yang masih menyisakan sisa-sisa ketegangan yang tertunda. "Nanti, setelah kalian sah menikah, segera kemasi barang-barang kalian," ujar Bhaga dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. "Kalian harus pulang ke rumah Papa. Kontrakan ini terlalu kecil, dan yang paling penting ... tempat ini sama sekali nggak bisa kasih privasi,” jelas Bhaga. Bhaga melirik ke arah ambal yang sedikit berantakan, lalu kembali menatap putranya dengan tatapan yang seolah berkata, 'Aku tahu apa yang hampir kalian lakukan.' Banyu dan Wening kompak terdiam. Wening merasa ingin menghilang ke dalam tanah saat itu juga. Sementara Banyu hanya bisa mengangguk lemah tanpa berani menatap mata ayahnya. "I-iya, Pa," jawab Banyu pelan, suaranya masih sedikit serak. "Iya, Pak," timpal Wening dengan suara yang nyaris tak terdengar. Bhaga mengangguk puas, lalu membuang napasnya dengan kasar. "Bagus. Sekarang Papa mau pulang. Persiapkan diri kalian," kata Bhaga. Pria tua itu berbalik menuju mobilnya untuk mengambil sisa barang Bumi, meninggalkan Banyu dan Wening yang masih terjebak dalam rasa malu yang luar biasa di tengah ruangan yang kini terasa lebih lapang. Setelah Bhaga berlalu, mereka baru bisa bernapas dengan sedikit lega. Wening mengembuskan napas panjang, setelah lolos dari inspeksi mendadak sang calon mertua. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, menutupi wajahnya yang masih terasa panas dengan kedua telapak tangan. Banyu, yang rupanya memiliki mental lebih baja, justru terkekeh rendah. Ia melangkah mendekat, mengurung kembali tubuh Wening dengan kedua tangannya yang bertumpu pada dinding. "Nakal banget kamu tadi, Wen," bisik Banyu tepat di ceruk telinganya. Suaranya serak, penuh nada menggoda yang membuat bulu kuduk Wening meremang. "Aku nggak nyangka kamu yang bakal narik aku ke ambal duluan." Wening mencebik, mencoba memasang wajah ketus meski binar matanya tak bisa berbohong. Ia mendongak, menatap Banyu dengan berani. "Jangan lupa siapa yang dulu ngajarin aku jadi begini, Nyu. Kamu gurunya, jangan pura-pura lupa itu." Banyu tertawa lepas, suara tawa yang terdengar begitu renyah dan bahagia. "Oke, oke. Aku yang salah. Guru yang terlalu berhasil mendidik muridnya, ya?" Ia kemudian menunduk, mencuri satu kecupan manis di bibir Wening yang membuat wanita itu terkesiap pelan. Namun, momen intim itu hanya bertahan sepersekian detik. Sampai bocah kecil mereka muncul. "Papa! Mama! Ngapain?" Keduanya tersentak hebat, kompak melompat menjauh hingga jarak satu meter. Di ambang pintu kamar mandi, Bumi berdiri tegak dengan handuk kecil di wajah yang masih basah. Matanya yang bulat menatap kedua orang tuanya dengan penuh rasa ingin tahu yang sangat polos. "Bumi ... itu ... Papa tadi lagi... ada semut di bibir Mama!" jawab Banyu ngasal, tangannya sibuk menggaruk kepala yang tidak gatal. Bumi memiringkan kepalanya, tidak percaya begitu saja. "Masa? Papa cium Mama, ya?” Wening rasanya ingin menghilang saja saat ini. Ia berdeham kencang, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil merapikan bantal yang sudah rapi. "A-anak kecil nggak boleh tanya-tanya itu. Udah, ayo Bumi cepat tidur. Besok, kan, harus sekolah." Bumi hanya mengangguk-angguk kecil sembari berjalan menuju ambal. Namun celetukan terakhirnya benar-benar menjadi penutup yang mematikan. "Orang dewasa selalu berbohong. Kan, Bumi juga udah besar. Udah tahu apa yang biasa Papa dan Mama lakukan." Banyu dan Wening hanya bisa saling lempar pandang dalam kebisuan yang sangat canggung, menyadari bahwa putra mereka ternyata jauh lebih cerdas dari yang mereka duga. Tepat saat itu, ponsel Wening berdering. Nama Aditi yang muncul di layarnya. Wening menatap Banyu sejenak sebelum akhirnya menerima panggilan itu. “Halo.” “Halo, Mbak. Kamu di mana? Cepat pulang, Papa masuk rumah sakit,” kata Aditi panik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN