“A-pa maksudmu?” Faye menghempas kasar tangan Xander, lalu mundur beberapa langkah. Napasnya terengah, jantungnya berdetak kencang. Di hadapannya saat ini bukanlah lelaki culun yang pernah ia siksa. Dengan tatapan tajam, Xander berjalan pelan ke arah Faye. Jari jemarinya menyentuh punggung tangan gadis itu, lalu dicium syahdu. Faye terkejut, ingin menarik tangannya, tetapi urung. Ia bisa melihat sisi lain dari pria ini, tapi telanjur malu menelan ludah sendiri. Tampan? Sangat. Hanya saja takdir mungkin tidak berpihak pada mereka. Masa lalu yang terbilang kelam itu entah bagaimana bisa dimusnahkan. Terlalu melekat dalam d**a, terlalu sulit dilupakan begitu saja. Entah berapa kali Xander dilarikan ke rumah sakit akibat penyiksaan fisik yang ia alami. “Ah, tidak ada. Aku hanya senang b

