Mata Faye tak luput dari wajah Xander. Pria itu tampak diam, ia menghela napas panjang setelah melayangkan banyak pertanyaan. Baginya, kematian Lyonere tidak bisa begitu saja dibiarkan. Ada rasa tidak terima, terlepas insiden terakhir malam itu, Lyonere tetaplah sahabatnya. “Bukan aku, sudah kukatakan sejak tadi.” “Bohong!” sangkal Faye, dadanya naik turun menahan amarah. Entah keberanian dari mana, kali ini ia menatap Xander penuh selidik. Sementara lelaki itu terlihat bingung, menghindari tatapan Faye. Ia merasa sedang diinterogasi. “Aku tidak tahu, Fay. Sungguh. Aku sama sekali tidak menyentuh dia, apalagi sampai tega membunuhnya.” Xander berkata pelan, wajahnya memelas. Faye menggeleng cepat, ia sangat hapal dengan kelakuan lelaki di depannya. “Kamu berbohong, Xander. Aku tidak

