Tubuh Faye masih mematung di atas lantai, sementara detak jantungnya berpacu kian gila. Ia hampir kesulitan bernapas melihat potongan kepala itu di depan matanya dikerubungi lalat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menelepon satu-satunya pria yang harusnya bertanggung jawab. Hanya butuh tiga deringan hingga panggilan mereka tersambung. Namun, saat mendengar suara Xander, bibir Faye justru mendadak kelu. Ia berusaha untuk mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada satu pun suara keluar dari mulutnya. “Hallo, Sayang?” Xander sudah menyapa, tetapi Faye sama sekali tidak bisa bicara. “Faye? Ada apa?” Sekali lagi, Faye masih hanya terdiam, seolah sesuatu mencekik tenggorokannya. “Faye! Apa kamu di sana?!” Xander di seberang sana sudah terdengar kesal. Namu

