PDD 02.

1339 Kata
Bali, Oktober 2020 “Berikan aku minuman seperti miliknya.” Seorang pria yang sedang menikmati minuman, menoleh. Menatap wanita yang baru saja duduk di sebelahnya. “Hai, Tampan. Aku Sofia. Siapa namamu?” Gadis yang malam ini memakai dres tanpa lengan berwarna merah, serta memoles bibirnya dengan warna senada itu mengulurkan tangan kanan. Sepasang matanya menatap lekat pria yang masih diam, hanya membalas tatapannya. Sofia, gadis yang tampil dewasa dengan dandannya tersebut mengangkat alis ketika tangannya masih dibiarkan menggantung oleh sang lawan bicara. Sofia merasa tersinggung ketika pria di sampingnya mengabaikan ajakannya untuk berkenalan. Sofia akhirnya menarik tangan kanan pria itu lalu menjabat tangannya. “Kamu tampan sekali, sayang … ternyata bisu. Tapi tidak masalah. Aku tidak keberatan berkenalan dengan orang bisu,” ujar Sofia sebelum meluruskan posisi duduk ke depan. Tersenyum ketika bartender di balik meja meletakkan gelas ke hadapannya. “Berapa usiamu?” “Kenapa memangnya? Apa aku terlihat seperti anak SMP?” tanya Sofia yang detik berikutnya terkekeh. Kepala perempuan yang mengurai rambut panjangnya itu bergerak turun naik. “Aku tahu wajahku ini baby face. Semua orang mengatakan itu.” Sofia mengambil gelas di depannya, lalu mengangkatnya. “Kalau kamu ingin tahu umurku yang sebenarnya, coba tebak dulu. Aku akan memberitahu kalau kamu gagal menebaknya,” tantang Sofia pada pria yang berdiri terpisah meja dengannya. Suara music DJ yang terdengar keras memenuhi ruangan, tidak membuat tiga orang itu merasa terganggu sama sekali. “Ayo tebak,” tantang Sofia setelah meneguk dua kali isi di dalam gelas. “Wah, ini enak sekali.” “Dua puluh dua.” Sofia berdecak. “Salah. Tebak lagi. Aku berikan kamu kesempatan tiga kali.” Sang bartender tersenyum. Pria itu menatap menelisik wajah perempuan di depannya. Di matanya, sekalipun perempuan di depannya ini berdandan dengan make up tebal, namun ia terlihat masih berusia belia. Awal dua puluh an, tebaknya dalam hati. Sofia tersenyum. Ia menoleh ke samping kanan–tempat seorang pria dewasa tampan duduk. “Apa kamu ingin ikut menebak?” tanya Sofia sambil menggerakkan tangan–memberikan bahasa isyarat sesuai dengan apa yang ia ucapkan. “Dua puluh tiga?” Mendengar tebakan tersebut, alis Sofia terangkat, sementara sepasang matanya masih beradu dengan si pria tampan. Bukan! Bukan pria itu yang menebak. Sofia meluruskan kembali pandangan ke arah bartender yang baru saja menggunakan kesempatan kedua untuk menebak berapa usianya. “Bagaimana? Benar, kan?” Sofia tidak langsung menjawab. Sofia justru tersenyum penuh rahasia, membuat sang bartender semakin penasaran. “Pasti benar.” “Salah.” “Masih salah?” tanya pria di balik meja. Pria itu mengerutkan sepasang bibir seraya mengusap-usap bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya. Sepasang matanya mengecil, menatap Sofia lebih lekat. “Kesempatan terakhir.” “Akkhhhh … masa masih salah. Kamu pasti berbohong. Mana KTP mu. Aku yakin usiamu masih awal 20 an.” Sofia menggelengkan kepala. “Menyerah? Aku sudah bilang wajahku ini baby face.” Bartender itu berdecak. “Dua puluh empat,” tebaknya lagi. Sofia tertawa renyah. “Masih salah.” “Astaga. Lalu berapa yang benar? Kamu membuatku penasaran, Nona.” Sofia melirik ke samping. Memperhatikan pria di sebelahnya meneguk minumannya. “Dua puluh tujuh. Kalau menurutmu, si tampan di sebelahku ini berapa umurnya? Sepertinya dia sudah tua. Betul tidak?” Pria di samping Sofia langsung menoleh, menatap Sofia seraya menekan-nekan katupan rahangnya. Meskipun kesal, ia sama sekali tidak merespon. Pria itu justru kembali mengisi gelasnya, lalu meneguk hingga langsung tandas. Suara hentakan ketika galas itu sedikit dibanting ke atas meja membuat Sofia menganga. Pria itu mendorong gelas ke seberang meja. Membuat pria yang berprofesi sebagai bartender bergerak cepat untuk menangkapnya. Lalu pria itu menarik keluar dompetnya. Mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. Meletakkan ke atas meja sebelum beranjak dari tempat duduknya. “Sekalian untuk perempuan dua puluh tujuh tahun ini,” katanya sebelum berbalik, berniat untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Sofia terbelalak. Ternyata dia tidak bisu, dan bisa bahasa Indonesia--batinnya senang. Sofia segera turun dari kursi tinggi yang ditempatinya. Tanpa berpikir panjang, Sofia berjalan cepat, meraih sebelah tangan pria asing itu kemudian menariknya. Tidak membiarkan pria irit bicara itu berkomentar, Sofia menariknya ke tengah-tengah puluhan orang yang sedang melantai. Sofia langsung bergerak, meliukkan tubuhnya dengan lihai, sementara sang pria hanya berdiri memperhatikan. “Ayolah, temani aku bersenang-senang. Aku sedang patah hati. Pacar 3 tahunku selingkuh. Padahal, apa kurangku? Coba perhatikan. Apa aku kurang cantik? Apa tubuhku kurang seksi? Kulitku kurang putih? Kamu laki-laki … coba beritahu aku, apa kurangku?” tanya Sofia dengan suara yang cukup keras, ditengah dentam musik yang memekakkan telinga. Tidak mendapatkan respon dari pria yang hanya berdiri di tengah-tengah para manusia yang sedang menari bebas tersebut, Sofia menghentak kakinya. Sofia menarik langkah ke depan, mengikis sisa jarak mereka. Sofia langsung menyentuhkan dua telapak tangannya ke d*da pria tersebut sambil meliukkan tubuh, menggoda pria itu supaya ikut bergerak bersamanya. Masih tidak berhasil, Sofia membawa kedua tangan pria itu ke pinggangnya, masih sambil bergerak. Ia memutar sehingga mau tidak mau pria itu ikut menggeser kaki hingga memutar. Namun, pria itu sama sekali tidak bergerak mengikuti musik. Lama-lama Sofia kesal sendiri. Sambil meletakkan tangan ke bahu pria itu, Sofia bertanya. “Kenapa kamu tidak tertarik padaku? Apa aku memang tidak semenarik itu?” Sofia menghentikan gerak kakinya. Menurunkan tangan, Sofia menatap kesal pria tersebut. “Ya sudah, mungkin aku memang tidak cukup menarik untuk pria tampan sepertimu. Mungkin aku harus menurunkan seleraku.” Sofia menarik langkah ke belakang. Karena tidak melihat, Sofia menabrak seseorang. Refleks Sofia memutar tubuhnya. “Ah, Sorry.” “Hai, cantik? Mau kutemani?” Sofia menarik sebelah alisnya. Satu sudut bibir Sofia terangkat. “Menurutmu aku cantik?” “Hah? Apa?!” Pria itu bertanya karena tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Sofia. “Menurutmu aku cantik?” tanya Sofia dengan suara yang lebih keras. “Tentu saja. Kamu cantik dan juga … seksi.” Pria muda yang baru saja ditabrak oleh Sofia itu memperhatikan penampilan perempuan cantik di depannya. Tubuhnya indah dengan ukuran d*da serta p****t yang sanggup membuatnya menelan ludah susah payah. Dres span tanpa lengan warna merah yang dipakainya benar-benar memperlihatkan keindahan tubuh tersebut. Sofia tertawa senang. “Ternyata ada yang tidak sakit mata,” ujarnya sebelum kemudian meraih bahu pria muda tersebut. Membiarkan pria itu memegang pinggangnya, sebelum mereka bergerak bersama mengikuti musik yang masih terus berdentam keras. Nyaris sepuluh menit melantai bersama sambil berbincang ringan, keduanya tampak seperti teman lama yang bertemu kembali. Si pria muda mulai lebih berani. Menarik pinggang Sofia mendekat lalu berusaha untuk mencium Sofia. Pria itu mengikis jarak yang tersisa. Sambil tersenyum, wajah mereka semakin dekat. Pria itu sedikit menunduk untuk mencapai bibir Sofia. Sedikit lagi ketika tiba-tiba tubuh perempuan dalam rengkuhannya ditarik menjauh darinya. “Hei … apa-apaan?!” Pria itu menghentak kesal kakinya. Menatap marah pria yang menarik mangsanya menjauh. “F*ck you!” “Hei … apa maksudmu?” Sofia berusaha untuk bertahan, namun tarikan pria itu terlalu keras hingga mau tidak mau dia mengayun kedua kaki supaya tidak terjatuh. Beberapa meter dari keramaian, pria itu berhenti berjalan lalu berbalik. “Ada apa denganmu? Kamu menolakku, lalu sekarang?” “Apa kamu begitu putus asa untuk mendapatkan sebuah ciuman?” tanya pria itu. Sofia mendongak membalas tatapan pria itu. Dagunya benar-benar terangkat tinggi. “Iya,” jawab Sofia seraya menarik langkah ke depan. Berjinjit lalu menyatukan bibirnya dengan bibir pria tersebut. Sofia melingkarkan kedua tangan ke leher pria tersebut. “Iya. aku ingin mendapatkan ciuman untuk meyakinkan diriku jika aku pantas dicintai.” Pria itu menatap lebih lekat sepasang mata yang kini sudah tidak kering. Tarikan napas dalam pria itu lakukan. “Pacarku tidur dengan sahabatku sendiri. Itu sangat menyakitkan. Apa kurang–” Sepasang mata Sofia terbelalak begitu pria yang wajahnya hanya berjarak kurang dari satu jengkal tangan darinya itu tiba-tiba menghapus jarak tersebut, kemudian menyatukan bibir mereka. Tidak hanya itu, bibirnya mulai bergerak, memaksa Sofia untuk membuka mulut. Sofia meremang. Gadis itu memejamkan mata. Tangannya meremas bahu pria itu, sementara bibirnya mulai bergerak, membalas setiap tarian bibir sang pria asing. “Kalau begitu, akan kuberikan apa yang kamu inginkan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN