Satu alis Biantara menukik tajam, sorot matanya mengeras karena ia sedang tidak ingin berdebat, apalagi menghadapi Melati yang menurutnya semakin sulit dihadapi; dalam benaknya, sikap wanita itu belakangan terasa makin menuntut dan manja—sesuatu yang dulu masih bisa ia toleransi, namun kini justru terasa mengganggu, meski ia sadar perubahan itu mungkin dipengaruhi oleh kehamilan yang semakin besar, hanya saja alih-alih memaklumi, ia justru merasa jenuh. “Mas. Dunia ini akan terus berjalan, meski tanpa Kania sekalipun. Kalau kamu mau menghabiskan waktu dengan menyesali kepergian Kania, apa gunanya aku di mansion?” Ucapan itu membuat perhatian Biantara sepenuhnya tertuju pada Melati, namun alih-alih menjawab, ia justru bergulat dengan pikirannya sendiri—kenapa semua orang seolah memintanya

