“Enough.” Biantara menekan suaranya serendah mungkin, menahan agar tidak meluap. Ini bukan saatnya mengikuti ego. Meski kepalanya berisik—seperti genderang perang yang dipukul tanpa henti—ia tetap berusaha mengendalikan diri. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sesaat, lalu matanya yang menyipit menatap tajam ke arah Melati. Wanita itu masih berdiri di hadapannya. Menunggu. Menunggu jawaban. Menunggu kepastian yang tak kunjung ia berikan. Namun Biantara sudah terlalu muak. Ia tidak ingin membahasnya lebih jauh. Tidak sekarang. Tidak ketika emosi mereka sama-sama di ujung. Ia tahu, satu kata saja bisa memicu ledakan yang tidak akan bisa ia kendalikan. Melati mendorong tubuh Biantara untuk menciptakan jarak. Tidak keras, tetapi cukup untuk menunjukkan betapa sesaknya perasaan yang ia t

