Bab 168

4701 Kata

Benda itu menancap di punggung tangannya. Ujung logamnya masuk tanpa ragu, menembus kulit hingga tertahan di sana. Namun yang lebih mengerikan adalah … Biantara tidak berteriak. Tidak ada jeritan. Tidak ada kepanikan. Hanya satu desis kasar yang keluar dari sela napasnya yang pendek dan tertahan, seolah rasa sakit itu tidak lebih besar dari apa yang sudah ia rasakan di dalam kepalanya. Wajahnya sempat menegang. Otot rahangnya mengeras, alisnya berkerut. Tapi itu hanya berlangsung sesaat. Detik berikutnya—bibirnya kembali terangkat. Tawa lirih keluar lagi, tipis dan patah, nyaris tanpa suara. Sorot matanya tetap kosong, tidak fokus, seakan apa yang baru saja ia lakukan bukan sesuatu yang nyata. “See, Kania…?” gumamnya serak, suaranya seperti tergerus dari dalam. “It hurts … but not eno

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN