“M-Mas ....” Suara Ranti nyaris putus di tengah napasnya sendiri. Ia tergagap ketika melihat Hanggara berdiri di ambang pintu—terlalu cepat, terlalu tiba-tiba, jauh dari perkiraannya. Jantungnya seolah jatuh, berdentum tidak karuan di rongga da.da. Tanpa sadar, jemarinya bergerak cepat mengusap sisa air mata di pipi, menyamarkannya dengan gerakan terburu yang justru terlihat kaku. Ia menegakkan tubuh, memaksakan ekspresi setenang mungkin, meski napasnya masih tersengal halus. “Untuk apa kamu di kamar Bian?” Nada itu datar. Tidak tinggi, tidak pula keras—justru itu yang membuatnya jauh lebih menekan. Ranti menggigit bibir bawahnya, cukup kuat hingga rasa perih membantu menahan gemetar. Kedua tangannya saling bertaut di depan perut, jari-jemarinya meremas satu sama lain, mencari pegangan

