"Astaga, Mi!” Tita menjerit histeris ketika Dania meletakkan satu baskom lagi adonan kue kering yang menggunung dan masih belum tersentuh sama sekali. “Masih berapa banyak lagi ini?" "Masih banyaklah, Kak. Ini aja belum ada setengah-setengahnya," sahut Dania santai dan tanpa perasaan. “Atuhlah …,” rengek Tita hampir menangis. Sudah tiga jam ia duduk di lantai dapur, di antara barisan baskom dan loyang, sibuk membentuk adonan kue kering yang jumlahnya tak terhingga. Kuenya pun bukan hanya satu macam, tapi beraneka ragam. Ada lidah kucing, kastengel, bangkit, coklat kacang, nastar, dan entah apa lagi. Tita sudah tidak bisa membedakannya dengan benar. "Sha, jangan ngeluh aja sih!" tegur Gin yang sudah berdiri di dekat kompor hampir selama satu jam. "Gimana enggak ngeluh, Gin. Ini leher gu

