76 Cuma Teman

1735 Kata

Nala tersenyum melihat tangannya yang masih digenggam oleh Arya. Bukan gandengan tangan yang mesra, sebenarnya lebih mirip ke orang tua yang menuntun anaknya menyebrang jalan. Tapi tetap saja ia senang. Sembari berjalan melewati koridor rumah sakit yang sepi, sebelah tangan Nala yang bebas dengan cepat mengetikkan pesan kepada pengawalnya. ‘Gue mau jalan ke parkiran, kalian ngikutinnya jaga jarak sampai lima belas atau dua puluh meter yah. Jangan sampai bikin orang yang bareng gue tahu kalau kalian ngikutin!’ “Chat siapa?” Arya yang ternyata memergoki Nala. Untung saja layar lapisan kaca anti spy pada ponsel Nala membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. “Oh itu, Dini. Seketaris aku itu ngingetin jadwal meeting besok,” bohong Nala. “Udah malam gini masih ngomongin kerjaan juga?” “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN