Donor yang Cocok

1019 Kata
Aku kembali ke rumah sakit sendirian. Langit pagi masih abu-abu ketika taksi berhenti di depan gedung utama. Udara dingin menyelinap lewat mantel tipisku, membuat tubuhku menggigil ringan. Entah karena cuaca, atau karena perasaan yang sejak tadi tidak mau tenang. Di tanganku, ponselku bergetar. Pesan dari Ethan. "Hasil tes darahmu sudah keluar. Tolong datang ke rumah sakit." Tidak ada emotikon. Tidak ada kata tolong yang sungguh-sungguh terdengar seperti permohonan. Hanya sebuah pemberitahuan. Aku menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Rumah sakit pagi itu lebih ramai dari kemarin. Suara roda brankar, langkah perawat, dan pengumuman dari pengeras suara bercampur menjadi satu. Aku menuju lantai yang sama, lorong yang sama dan kursi tunggu yang sama. Ethan sudah di sana. Dia berdiri di dekat nurse station, mengenakan kemeja gelap dan jas yang kusut. Rambut Ethan tidak serapi biasanya. Ada lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas. Suamiku menoleh cepat saat melihatku. “Elena,” katanya. Aku tersenyum kecil. “Pagi.” Ethan mendekat dua langkah, lalu berhenti. Seperti ada jarak tak kasat mata yang tak pernah ia lewati. “Dokter akan menemui kita sebentar lagi,” ujarnya. Kita. Aku mengangguk dan duduk. Tanganku saling menggenggam di pangkuan. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Beberapa menit kemudian, seorang dokter wanita keluar dari ruangan konsultasi. “Mrs. Hart?” Aku berdiri. Ethan ikut berdiri di sampingku. Dokter itu tersenyum profesional. “Hasil tes darah Anda sudah kami terima. Dan… Anda cocok.” Kalimat itu sederhana dan pendek. Namun dampaknya terasa seperti sesuatu yang jatuh tepat ke tengah dadaku. “Golongan darah Anda identik dengan pasien,” lanjut dokter. “Dan kondisi Anda cukup baik untuk menjadi donor.” Aku belum sempat bereaksi ketika Ethan menghela napas panjang. Bukan napas lega yang ditahan karena istrinya sehat. Melainkan napas lega karena masalahnya terpecahkan. “Terima kasih Tuhan,” katanya lirih. Aku menoleh padanya. Senyum kecil tersungging di bibir suamiku. Matanya meredup oleh emosi yang selama ini jarang kulihat. Dan itu bukan untukku. “Terima kasih, Elena,” lanjutnya. “Ini sangat berarti.” Aku tersenyum balik. Senyum yang terlatih. “Kapan bisa dilakukan?” Dokter melirik catatannya. “Hari ini, jika Anda bersedia. Kondisi Lydia membutuhkan transfusi segera.” Aku mengangguk tanpa ragu. “Aku bersedia.” Ethan menatapku, seolah baru sadar bahwa ada manusia di balik kata donor itu. “Kamu yakin?” tanyanya. Pertanyaan itu datang terlambat. Tapi aku tetap menjawabnya. “Ya.” Ethan mengangguk pelan. “Baik.” Tidak ada lagi kata. Tidak ada genggaman tangan. Tidak ada aku akan menemanimu. Hanya itu saja. Dokter mengangguk puas. “Perawat akan mengantar Anda.” *** Ruangan donor lebih dingin dari yang kubayangkan. Aku berbaring di ranjang kecil dengan selimut tipis menutupi tubuhku. Seorang perawat membersihkan lenganku dengan kapas alkohol. Bau antiseptik menyengat hidung. “Kamu tegang,” kata perawat itu ramah. Aku tersenyum tipis. “Sedikit.” “Tarik napas perlahan.” Aku menurut. Jarum menusuk kulit ini. Ada rasa perih singkat, lalu hanya tekanan tumpul. Kantong darah perlahan terisi cairan merah tua, bagian dari diriku. Aku menatap langit-langit putih. Mencoba untuk tidak memikirkan apa pun. Di luar ruangan, aku bisa mendengar suara langkah kaki. Aku tahu Ethan ada di sana. Aku bisa merasakannya. Namun dia tidak masuk umtuk melihat kondisiku. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Ethan berdiri di ambang pintu. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya. Aku mengangguk. “Ya.” Ethan melangkah masuk satu langkah, lalu berhenti lagi. Pandangannya jatuh ke kantong darah yang hampir setengah penuh. “Itu… cukup?” tanyanya pada perawat. “Masih berjalan,” jawab perawat itu. “Sekitar sepuluh menit lagi.” Ethan mengangguk, lalu menoleh ke arahku. “Terima kasih, Elena.” Kata itu terdengar tulus. Tapi tidak hangat. “Setelah ini,” lanjutnya, “aku akan langsung membawanya ke Lydia.” Aku mengangguk. “Tentu.” Aku tidak tahu kenapa, tapi dadaku terasa sedikit lebih berat. Ethan pergi sebelum aku bisa mengatakan apa pun lagi. Aku keluar dari ruangan donor setengah jam kemudian dengan langkah sedikit goyah. Perawat memberiku segelas jus dan menyuruhku duduk sebentar. Aku duduk sendirian. Ethan tidak ada. Dari kejauhan, aku melihatnya berdiri di depan kamar ICU, berbicara dengan dokter lain. Ada sesuatu yang menyakitkan dalam pemandangan itu. Bukan karena aku cemburu pada Lydia. Tapi karena aku menyadari satu hal sederhana. Darahku berharga untuknya, tetapi aku sendiri tidak. Aku bangkit perlahan dan berjalan ke kamar kecil. Wajahku tampak pucat di cermin. Bibirku kehilangan warna. Aku membasuh wajahku dengan air dingin. “Ini tidak apa-apa,” bisikku pada bayanganku sendiri. “Ini hanya sekali.” Aku kembali ke lorong dan berdiri beberapa meter dari kamar Lydia. Pintu sedikit terbuka. Aku bisa melihat Ethan duduk di sisi ranjang Lydia dan menggenggam tangannya... lagi. “Donornya sudah ada,” katanya lembut. “Kamu akan baik-baik saja.” Lydia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tahu. Kamu selalu menepati janji.” Janji. Aku memalingkan wajah sebelum mereka menyadari keberadaanku. *** Kami pulang terpisah sore itu. “Aku akan tinggal sebentar di sini,” kata Ethan saat kami berdiri di area parkir. “Hanya sampai kondisinya stabil.” Aku mengangguk. “Aku bisa pulang sendiri. Aku akan meemsan taksi.” Ethan tampak ragu sejenak. “Pastikan kamu istirahat.” “Ya.” Mobilnya pergi. Aku berdiri sendirian, menunggu taksi. Sepanjang perjalanan kepalaku terasa ringan. Tubuhku lelah, tapi bukan itu yang paling menyakitkan. Yang menyakitkan adalah kesadaran pelan yang mulai terbentuk adalah aku berguna selama aku bisa memberi. Malam itu, aku tertidur lebih cepat dari biasanya. Namun bahkan dalam tidur, pikiranku tidak benar-benar beristirahat. Aku bermimpi berada di kamar putih yang sama. Tanganku terulur, darahku mengalir. Sementara Ethan berdiri di ujung ruangan sembari membelakangiku dan memeluk Lydia. Aku terbangun dengan napas tersengal. Kamar gelap. Sunyi. Aku duduk dan memeluk lututku sendiri. “Ini hanya darah,” bisikku. “Hanya darah.” Entah mengapa, dadaku terasa kosong, seperti ada bagian dari diriku yang tertinggal di ruangan itu. Bukan hanya darah yang keluar, tapi juga sesuatu yang tak bisa kugenggam kembali. Aku belum menyadarinya saat itu. Bahwa apa yang kuberikan hari ini bukanlah puncak pengorbanan, melainkan kebiasaan baru. Dan sejak saat itu, tak ada lagi yang benar-benar kembali utuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN