Sepanjang malam Ivy berbaring di tempat tidurnya dengan perasaan campur aduk. Bagaimana Ivy tidak kacau jika semalaman Rocky tidur di sisinya? Meski Rocky langsung tertidur, Ivy tetap tidak bisa memejamkan mata. Hal yang dulu begitu ia sukai, kini terasa asing dan janggal.
Sejak Rocky berbaring di sisinya, Ivy merasakan berbagai perasaan yang sulit ia jelaskan. Meski demikian, Ivy tetap berbaring diam memandangi Rocky yang terlelap persis di sisinya. Sebenarnya ia bisa saja meninggalkan Rocky sendiri, atau dengan kejam menendang pria itu hingga terjatuh ke lantai, namun entah mengapa tidak dilakukannya. Mungkin tanpa Ivy sadari, ada sebagian dirinya yang begitu merindukan kehadiran Rocky. Sayangnya Ivy hanya bisa menikmati waktu seperti ini saat Rocky dalam kondisi terlelap karena pengaruh alkohol, karena dalam kondisi normal, pastinya mereka akan terus saling bertengkar.
Ivy masih ingin terus berbaring di sana, namun suara-suara dari lantai bawah membuatnya terpaksa bangun. Ketika menuruni tangga, ia melihat Aaron sedang duduk santai di ruang tengah.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Ivy heran. Melihat Rocky di sini saja sudah merupakan hal yang langka. Apalagi melihat sahabat kakaknya itu ikut muncul juga.
"Mencari kakakmu. Dia ada di sini, bukan?" Meski hampir mustahil untuk menemukan Rocky di kediamannya sendiri, tapi kali ini Aaron yakin memang di sinilah sahabatnya berada sejak semalam.
"Hm. Dia di sini."
“Di mana dia?”
“Di kamar,” jawab Ivy singkat. Dalam hati Ivy langsung berdoa semoga Aaron tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Namun sayang, harapan Ivy jauh dari terkabul karena sesaat kemudian Aaron langsung bertanya lagi.
"Kamarnya?"
Seketika Ivy diserang kepanikan. Apa jawaban yang harus ia berikan? Apakah lebih baik berbohong saja?
“Dia di kamarnya?” ulang Aaron ketika melihat Ivy kebingungan.
"Kamarku," gumam Ivy. Ia berharap Aaron tidak mendengar ucapannya, namun lagi-lagi harapan Ivy sia-sia.
"KAMARMU?!" seru Aaron spontan.
"Reaksimu berlebihan." Sudah Ivy duga jika Aaron akan bereaksi dramatis, namun ketika itu terjadi tetap saja gadis itu merasa jengah.
Aaron bangkit dari sofa, mendekat ke arah Ivy, memicingkan mata, kemudian tersenyum jail. “Apa yang dia lakukan di kamarmu?”
Ivy langsung melengos untuk menghindari tatapan menyelidik Aaron yang menyebalkan, lalu cepat-cepat menjawab ketus, “tidur.”
“Bagaimana kau tahu?” Aaron semakin kesulitan untuk mengontrol ekspresi wajahnya.
“Mana mungkin aku tidak tahu kalau dia tidur tepat di sebelahku! Di kamarku!” sahut Ivy ketus. Sebenarnya Ivy sendiri tidak mengerti untuk alasan apakah kemarahannya ini? Entah karena kesal mengingat pertengkarannya dengan Rocky, kesal karena kehadirannya, atau mungkin sebenarnya untuk menutupi malu yang saat ini tengah dirasakannya?
Aaron tergelak kencang melihat kekesalan Ivy. "Jadi kalian tidur bersama sepanjang malam?"
Ivy langsung mendelik tajam. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak!"
“Akhirnya ....!” Aaron bertepuk tangan dengan senang. “Setelah sekian lama akhirnya kalian berbaikan juga!”
“Kata siapa kami berbaikan?” tanya Ivy sinis.
Aaron menunjuk cepat wajah Ivy. “Katamu.”
“Kami tidak berbaikan,” bantah Ivy cepat. “Dia hanya tidur dengan seenaknya di kamarku.”
Aaron tersenyum mengejek. "Kenapa tidak kau usir?"
Pertanyaan Aaron membuat Ivy merasa tertampar. Benar juga. Mengapa ia tidak mengusirnya? Namun segera Ivy membela diri. "Sudah kuusir tapi dia malah langsung terlelap."
“Kenapa kau tetap di sana bersama dia?” Aaron tidak kehabisan akal untuk menggoda dan menyudutkan Ivy.
“Memangnya aku mau ke mana lagi? Itu kamarku!” seru gadis itu jengkel.
Aaron mengerling jail dan tanpa segan mengutarakan teorinya. “Setahuku masih ada kamar lain di tempat ini. Jadi seharusnya kau bisa keluar dari kamarmu dan meninggalkan Rocky sendirian.”
“Sudahlah!” sergah Ivy dongkol.
Aaron ingin tertawa kencang namun ia takut Ivy akan semakin meradang. Akhirnya Aaron hanya berujar geli, "kau terlihat kesal."
"Bagaimana aku tidak kesal?” balas Ivy sengit. Entah mengapa juga ia jadi meluapkan kemarahannya pada Aaron. “Setelah marah-marah tanpa alasan, dia dengan seenaknya tidur di kamarku."
"Dia bukan marah tanpa alasan." Tiba-tiba saja sikap Aaron berubah serius.
Ivy mengernyit curiga. "Lalu?"
"Kau sungguh tidak tahu alasan kakakmu marah?" Aaron menggeleng tidak percaya.
Ivy mengedik angkuh. "Tidak ada alasan untuknya marah."
Aaron mengembuskan napas lelah. Ia merasa perlu untuk meluruskan kesalahpahaman di antara dua kakak beradik ini. "Kau membawa laki-laki ke rumah saja sudah jadi alasan yang cukup kuat untuk membuatnya kesal. Apalagi melihatmu bermesraan dengan pemuda itu. Jelas itu membuat Rocky menggila."
"Siapa yang bermesraan?!" seru Ivy jengkel.
"Kau ini hilang ingatan atau bagaimana, Ivy?" tanya Aaron setengah menyindir.
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti!"
"Pemuda itu. Kau dan dia. b******u di dapur. Di hari ulang tahunmu," ujar Aaron terus terang. "Bukan aku membela Rocky, tapi sangat wajar dia marah. Dia menyempatkan datang ke sini khusus untuk mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, dan dia malah mendapat kejutan yang luar biasa. Kalau aku jadi dia, aku juga pasti akan marah."
"Astaga! Aku tidak bermesraan dengan Blade!" erang Ivy tiba-tiba. Sekarang tahulah dia akar dari permasalahan semalam. Rupa-rupanya Rocky kembali mencurigainya melakukan hal-hal tidak benar.
"Tapi kenyataannya?" tantang Aaron.
"Blade datang tanpa aku undang. Dia tahu aku berulang tahun, dan dia ingin menemaniku karena Blade tahu aku sendirian. Soal kejadian di dapur itu, aku sedang memasak dan mataku terkena percikan minyak panas. Blade hanya membantu mengobati mataku. Itu saja." Ivy mengatakan semua pada Aaron, tanpa ada yang ia tutupi. Meski Ivy begitu membenci Rocky, namun ia memercayai sahabat-sahabat kakaknya itu.
"Ternyata begitu …." Aaron bergumam sambil mencoba mencerna perkataan Ivy. Setelah dipikir-pikir lagi, rasanya masuk akal. Lagi pula, meski Ivy ini nakal dan sulit diatur, gadis itu tidak suka berbohong.
"Jadi dia marah karena berpikir aku bermesraan dengan Blade?" Ivy bertanya pada Aaron untuk memastikan dugaannya.
"Memangnya kau pikir apa lagi? Jelas itu alasannya! Kau tahu sejak dulu, dia paling benci melihatmu terlibat dengan berbagai pemuda urakan yang tidak jelas latar belakangnya."
Ivy bergeming. Ia berusaha menahan diri untuk tidak menanggapi kata-kata Aaron.
"Berhentilah membuatnya meradang terus seperti orang gila, Ivy. Kau tahu dia selalu berubah menjadi gila setiap kali berurusan denganmu. Dia jadi seperti bukan dirinya sendiri, dan itu mengerikan."
Niatnya semula berantakan sudah. Ivy tidak tahan jika terus disalahkan sementara Rocky selalu di posisi yang benar. "Berhentilah membelanya, Aaron. Aku muak."
“Aku bukan membelanya,” bantah Aaron cepat.
“Lalu apa?!”
“Aku hanya berusaha menjembatani kesalahpahaman di antara kalian.”
“Salah paham bagaimana?” tanya Ivy dengan nada menantang.
Aaron mengangkat bahunya lalu berujar santai, “kau selalu beranggapan dia mengekang dan mengganggu hidupmu.”
“Memang begitu kenyataannya.”
Aaron menggeleng sedih melihat betapa Ivy selalu berpikiran buruk pada Rocky. “Dia tidak begitu, Ivy. Dia hanya khawatir padamu.”
“Khawatir soal apa?”
“Pergaulanmu.”
“Apa yang salah dengan pergaulanku?” Kali ini Ivy menanyakannya dengan nada tersinggung.
“Para pemuda yang berdekatan denganmu …, semuanya …,” ujar Aaron menggantung. Ia bingung mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan maksudnya.
“Apa?” tanya Ivy dingin. Perasaannya mengatakan jika apa yang akan didengarnya pastilah sesuatu yang tidak mengenakkan.
Setelah ragu beberapa saat, Aaron mengatakannya juga. “Tidak ada yang benar.”
“Kenapa menyimpulkan begitu?”
Aaron meringis kemudian tersenyum kecut. “Coba saja lihat penampilan Blade.”
“Apa yang salah dengan dia?” balas Ivy tidak suka.
“Dia terkesan …, berandalan,” ujar Aaron sambil meringis.
“Berdasarkan apa penilaian seperti itu dibuat?” tantang Ivy.
Aaron berpikir-pikir kemudian memberikan alasan pertama. Ada hal yang sangat mencolok dari penampilan Blade sejak pertama ia melihat pemuda itu. “Tato di tubuhnya, misalnya ….”
Ivy mendengkus kemudian tersenyum sinis. “Kau tidak pernah berkaca?”
Oke! Ivy benar. Ia pun bertato. Aaron kembali berpikir dan mengingat-ingat penampilan Blade. “Atau tindikan di telinganya ….”
Kali ini Ivy tertawa meremehkan. Ditatapnya tajam-tajam telinga Aaron. “Kau pernah menghitung jumlah lubang di telingamu sendiri?”
Aaron menggaruk kepalanya. Gadis ini benar-benar pandai berdebat. Ia harus kembali menemukan alasan lain untuk mencela penampilan Blade. “Atau rambutnya yang berkuncir itu?”
“Rambutmu masih jauh lebih panjang dari milik Blade,” tandas Ivy kejam. Dan sebelum Aaron kembali mengajukan vonis lain tentang penampilan urakan Blade, Ivy cepat-cepat berkata tegas. “Kalian sama saja. Jadi kenapa juga harus dipermasalahkan?”
“Astaga, anak ini!” Aaron mengerang frustasi. Tiba-tiba ia merasa iba pada Rocky yang selama belasan tahun berjuang menghadapi kekeraskepalaan adiknya ini. “Tidakkah kau mengerti?”
“Apa?”
“Rocky tidak ingin kau terjebak dalam dunia seperti kami. Dia ingin kau bertemu dengan pemuda baik-baik, dari kalangan yang normal.”