Jam di laptop sudah menunjukan tengah malam lewat dua puluh menit. Angka-angka di sana belum selesai Raja periksa, tapi kepalanya sudah berdenyut cepat. Ia berniat membuat secangkir kopi untuk membantunya tetap terjaga. Jadi, ia pergi ke dapur sekadar mencari kopi sachet yang mudah dibuat.
Sialnya, biarpun ia adalah bos batu bara yang kaya raya, Raja tak menemukan benda itu di dapur. Ya, ia akui. Bahkan rumah ini saja hanya sekadar tempat singgah. Raja gila kerja sampai lupa jika sewaktu-waktu ia juga butuh asupan. Alasan lainnya, karena sejak Adel tinggal di sini, Raja jadi makin protektif.
Gadis itu tidak suka banyak orang. Tidak terbiasa berinteraksi dengan normal. Ia membatasi diri, hingga Raja terpaksa membebaskan beberapa ART-nya dan memilih jasa pembersihan rumah sepekan sekali. Itu semua demi kenyamanan Adel.
Namun malam ini, proteksinya itu justru membuatnya kesusahan. Ia biasanya membeli banyak minuman dari supermarket sebelum membawa pekerjaan ke rumah, tapi hari ini pikirannya tak sejalan. Ia ingin cepat pulang karena ada penghuni baru di rumah ini yang kemungkinan … akan dekat dengan Adel selama 24 jam. Dan itu membuat pikiran Raja tidak tenang.
Pria itu masih mencari-cari sesuatu di dapur, sampai akhirnya menemukan kopi dan 2 stoples yang mirip gula. Tanpa menunggu, ia menyeduhnya. Mengaduk pelan usai menuang air dispenser ke cangkirnya.
Kembang yang tadi berniat mengambil air putih di dapur memperhatikan pria itu dengan saksama. Gerakan Raja yang kaku dan sedikit ceroboh membuat perutnya tergelitik tawa. Jelas, jika bos besar ini tidak pernah mengunjungi dapur selama ini. Sampai suara pekikkan terdengar dari bibirnya yang tipis.
“Ugh … sial. Kenapa asin?” ucapnya.
Kembang menahan tawa dengan menutup mulutnya. Bahkan pria itu tidak bisa membedakan garam dan gula dengan baik. Saat itu, Raja menoleh. Ia menemukan sosok Kembang di bawah temaram lampu kristal yang menggantung di atas meja makan.
“Ngapain kamu?”
“Lagi liat bos besar yang nggak bisa bedain gula sama garam,” celetuk Kembang.
Raja mendengkus kasar. Rupanya wanita itu memperhatikannya sejak tadi. Sialnya, apa yang diucapkan Kembang memang benar. Kopinya bahkan jadi asin karena ia salah memasukan garam ke dalam cangkirnya.
“Mau dibantu nggak?” tanya wanita itu lagi.
Raja masih diam, kemudian mengikis jarak dengan Kembang yang masih bersedekap santai.
“Kalau udah selesai, bawa ke ruang kerjaku,” perintahnya.
Kembang tersenyum kecil. Ia pikir, pria itu akan menolak dan memilih berlalu karena malu. Rupanya tidak. Wanita itu kemudian menoleh dan memperhatikan punggung Raja yang berlalu, lantas menjawab, “Siap, Bos.”
Beberapa waktu kemudian, Raja yang sibuk kembali dengan laptopnya mendengar ketukan di pintu. Tanpa menoleh, ia meminta Kembang untuk masuk. Langkah kakinya tak bersuara karena wanita itu tak memakai alas kaki. Hanya aroma bunga lili yang kemudian menyergap indra penciuman Raja tanpa permisi.
Pria itu mendongak, mendapati wanita malam yang ia kontrak menjadi pengasuh kedua Adel berdiri dengan cangkir kopi di tangannya. Pakaian dinas malam berwarna lembut menempel di tubuhnya yang pas. Raja tidak memperhatikan hal itu tadi. Namun sekarang, ketika ada di ruangan kerja ini, semuanya jadi tampak nyata.
“Kopinya, Bos,” katanya singkat.
Raja berdehem pelan, berusaha menetralkan sensasi aroma lili yang mendadak memenuhi ruang kerjanya yang biasanya hanya berbau kertas dan sisa rokok. Ia menutup layar laptop sedikit, memberi ruang bagi Kembang untuk meletakkan cangkir itu.
“Taruh saja di situ,” jawab Raja, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Kembang tidak langsung pergi. Bukannya meletakkan cangkir itu dengan gerakan kaku, ia justru membungkuk perlahan hingga uap kopi yang panas mengepul tepat di bawah wajah Raja. Gerakan itu membuat jarak di antara mereka terpangkas habis.
Ujung rambut Kembang yang masih sedikit lembap menyapu punggung tangan Raja yang ada di atas meja. Dingin, tapi terasa seperti sengatan listrik.
“Masih panas,” bisik Kembang. Ia meletakkan cangkir itu, tapi jemarinya tidak segera ditarik. Sebaliknya, ia memutar posisi cangkir agar pegangannya menghadap tepat ke arah tangan Raja, memastikan kulit jari mereka bersentuhan meski hanya sekilas.
Raja memperhatikan jemari wanita itu. Lentik, tanpa hiasan berlebih. Namun terlihat sangat kontras di atas meja mahogani miliknya yang gelap. “Terima kasih. Kamu bisa kembali ke kamar.”
Kembang tidak beranjak. Ia justru berpindah posisi, berdiri di samping kursi kebesaran Raja. Salah satu tangannya berpegangan pada sandaran kursi. Sementara tangan lainnya merapikan beberapa lembar dokumen yang sebenarnya sudah tertata rapi.
“Adel sudah tidur lelap. Dia anak yang manis, persis seperti papanya,” kata Kembang dengan nada bicara yang mengalun rendah, hampir menyerupai gumaman.
Ia memiringkan kepala, menatap sisi wajah Raja dengan intensitas yang membuat pria itu merasa seolah-olah sedang dilucuti. Tanpa sadar, Kembang menggigit bibir bawahnya sedikit. Sebuah gerakan yang sangat alami, tapi di bawah lampu remang ruang kerja, itu terlihat seperti undangan yang tidak terucap.
“Kenapa kelihatan tegang banget,” lanjutnya. Kembang mengulurkan tangan, menggerakkan udara di dekat bahu Raja, seolah-olah ingin menyapu debu yang tidak ada di sana. “Pekerjaan ini nggak akan lari ke mana-mana, tapi kesehatan bisa aja terganggu.”
Raja menoleh, dan itu adalah kesalahan. Sekarang, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Kembang tidak mundur. Ia justru menumpukan sedikit berat badannya pada meja, membuat lekuk tubuhnya yang terbalut kain lembut itu semakin nyata di depan mata Raja.
“Ada yang bisa aku bantu biar kamu merasa sedikit santai?”
Kalimat itu menggantung di udara. Kembang memberikan senyum tipis. Senyum yang menyimpan misteri yang membuat Raja lupa kapan terakhir kali ia merasa setegang ini dekat dengan perempuan.
Raja bukan pria yang mudah kehilangan kendali. Namun ia juga bukan pria yang sabar jika otoritasnya mulai diusik. Dalam satu gerakan yang begitu cepat hingga Kembang tidak sempat berkedip, Raja mendorong kursinya ke belakang, berdiri, dan menyambar pinggang Kembang.
Punggung Kembang menubruk tepian meja mahogani yang tumpul. Sebelum wanita itu bisa memprotes, kedua tangan Raja sudah mengunci di sisi tubuhnya, mengepungnya dalam ruang sempit yang dipenuhi aroma maskulin miliknya.
Wajah Raja merunduk, berhenti tepat di depan bibir wanita itu. Embusan napas pria itu terasa panas dan memburu di permukaan kulit wajahnya.
“Dengar baik-baik,” desis Raja, suaranya rendah dan sarat akan ancaman yang gelap. “Saya bayar kamu mahal untuk menjaga Adel. Menjadi pengasuhnya, memastikan dia aman, dan memberikan kasih sayang yang dia butuhkan. Bukan untuk masuk ke ruangan ini dan mencoba bermain-main dengan saya.”
Mata Raja menatap tajam ke dalam manik mata Kembang, seolah-olah ingin menegaskan bahwa dia adalah penguasa di rumah ini. “Tugasmu hanya Adel. Nggak lebih, dan jangan melewati batas.”
Namun, Kembang bukanlah wanita yang mudah diintimidasi oleh gertakan. Alih-alih merasa takut atau ciut, senyum tipis justru mengembang di bibirnya. Ia melihat api di mata Raja. Api yang tidak hanya berisi kemarahan, tapi juga keinginan yang ditekan paksa.
“Gitu, ya?” bisik Kembang tenang.
Tanpa melepaskan kontak mata, Kembang perlahan mengangkat satu lututnya yang bebas. Dengan gerakan yang sangat halus tapi terukur, ia menyusupkan lutut itu di antara celah kaki Raja yang berdiri kokoh. Ia menaikkan kakinya sedikit demi sedikit hingga tempurung lututnya menyentuh pangkal paha Raja, tepat di mana ketegangan pria itu sudah tidak bisa lagi disembunyikan di balik celana kain mahalnya.
Kembang bisa merasakan otot tubuh Raja mengeras seketika saat lututnya memberikan tekanan kecil di sana.
“Tapi tubuh Bos nggak sejalan dengan kata-kata ketus tadi,” goda Kembang, suaranya serak dan menggoda. Ia sedikit mendongak, membuat ujung hidung mereka bersentuhan. “Ini butuh dilemesin, Bos. Serius!”
Ia menggerakkan lututnya sedikit. Membuat napas Raja memburu. Wanita di depannya benar-benar tidak bisa dianggap enteng.
Raja menelan ludah ketika Kembang makin berani bergerak. Namun, ia tak mau terbawa suasana. Raja melepas kunciannya dan berbalik membelakangi wanita itu.
“Kembalilah ke kamar. Aku masih banyak kerjaan,” titahnya.
Kembang hanya tersenyum, sungguh dalam hati ia tak menolak jika Raja mengerjainya. Jiwa jalangnya terus meronta membayangkan kebrutalan pria itu di ranjang. Namun, seperti yang Raja katakan. Ia harus tahu batasan. Cukup ngerjain bos besar malam ini dengan ketegangan yang tidak terelakkan. Kembang harus kembali ke kamar.
“Selamat malam, Bos,” katanya kemudian berlalu.
Sementara Raja tak menjawab. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Sok nggak butuh, tapi tubuhnya bahkan berkhianat di depan matanya.
“Sialan!”