BAB 73

1359 Kata

“Ayah ingin kamu segera kembali ke Jakarta minggu ini, Valen. Jangan biarkan masa depanmu terhambat oleh urusan sentimental di Surabaya,” bunyi surat resmi dari sekretariat Barandra Aksara yang dibaca Valen di layar tablet pribadinya. Cahaya putih dari layar tablet memantulkan raut wajah Valen yang mengeras dingin di sudut kafe sepi dekat perimeter luar Bandara Juanda. Di luar kaca jendela, bayangan burung-burung besi yang lepas landas menyisakan garis putih di langit sore yang mulai menguning, beradu dengan gemuruh halus mesin jet dari kejauhan. Aroma kopi hitam yang menyengat dari cangkir di mejanya tak mampu mengurai ketegangan di pelipis Valen. Pesan tertulis dari sang ayah—tokoh senior berpengaruh di industri aviasi nasional—bukan sekadar himbauan keluarga, melainkan perintah yang s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN