BAB 19

1452 Kata

“Kamu selalu bisa menemukan tempat sepi di kota yang bising ini ya?” gumam Thalia sambil memandangi gumpalan awan jingga di atas Jembatan Suramadu. Valen tersenyum, menyenderkan punggungnya pada pembatas kayu dermaga tua di kawasan Kenjeran itu. Di sekeliling mereka, deburan ombak Selat Madura bergerak tenang, memantulkan pendar emas matahari sore yang perlahan tenggelam di balik ufuk barat. “Surabaya punya banyak sudut tenang kalau kamu tahu ke mana harus melangkah,” balas Valen pelan, menyerahkan sebiji kelapa muda yang sudah terpasang sedotan ke arah Thalia. “Bicara soal rute dan koordinat kan memang makanan kita sehari-hari, bukan?” Thalia menerima es kelapa itu, terkekeh renyah sembari menyesap airnya yang segar. “Mulai deh bercanda pakai istilah aviasi. Kita ini lagi di luar jam k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN