BAB 33

1417 Kata

“Saya tidak pernah membiarkan wanita mana pun masuk ke ruang pribadi saya, Thalia ... kecuali satu orang yang suara manisnya selalu saya tunggu di frekuensi,” ucap Valen lembut di telepon. Suara bernada berat dan tenang itu terdengar memecah keheningan kamar Thalia. Kehangatan mengalir pelan dari balik pengeras suara ponsel, memagut suasana malam yang dingin dan sunyi di Surabaya. Thalia, yang tadinya berbaring miring sembari memeluk bantal guling, memiringkan tubuhnya perlahan lalu menyenderkan punggung pada sandaran tempat tidur. Senyum tipis yang tak bisa dibendung mengembang manis di bibirnya, menghalau sisa-sisa penat setelah menyelesaikan shift malam yang cukup menguras pikiran. Ponsel di genggamannya terasa hangat oleh pancaran daya yang terus terhubung. Di luar jendela kamar, gur

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN