Jarak pandang makin buruk! Kita sama sekali tidak bisa melihat lampu landasan dari ketinggian ini, Cap!” seru Kenzo panik sambil memandangi kegelapan malam yang pekat di luar kaca kokpit. Gumpalan awan hitam pekat bercampur rintik hujan deras memagari kaca depan Boeing 737-800, membentangkan kegelapan total yang menyapu bersih seluruh pemandangan luar. Kilatan petir di kejauhan sesekali menyinari kabin depan, memantulkan ketegangan hebat di raut wajah Kenzo yang pucat pasi. Valen mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada control column. Otot-otot tangannya menegang keras, bertarung melawan resistensi kemudi yang teramat kaku dan lambat merespons akibat menyusutnya tekanan sirkuit hidrolik utama. “Tetap fokus pada instrumen Primary Flight Display, Kenzo!” pangkas Valen dengan intonasi bariton ya

