“Apa? Jadi sampai sekarang kamu belum juga berhasil memperoleh petunjuk keberadaannya?” “Seharian ini, komputer tidak mendeteksi ponselnya aktif. Maaf Pak Marco,” ucap Niken dari dalam pesawat teleponnya. Marco meremas gagang kemudinya. Ia merasa kesal karena mendapati jalan buntu. “Terus lacak keberadaannya. Begitu ponselnya aktif, segera laporkan padaku.” “Baik, Pak,” sahut Niken. “Pak Marco, tadi Pak Irfan menanyakan keberadaan Anda.” Marco terdiam. Ia merasa bersalah karena tidak mengatakan niatnya untuk mencari Cassandra. Tapi semua itu dilakukannya karena ia terlanjur kesal pada kakaknya. Ia merasa kecewa karena merasa dibohongi selama dua puluh tahun terakhir. “Saya mengatakan bahwa Anda sedang cuti selama beberapa hari ke depan,” lanjut Niken. Marco bernapas lega. Ia mera

