Marco menopangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya. Lelaki itu duduk dengan perasaan gelisah. Sesekali ia melihat ke jalanan dan mengamati sekelilingnya. Tak seperti biasanya, siang hari ini cafe langganannya terlihat sepi. Ia menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan keras. Lalu diraihnya cangkir americano panasnya dan menyesapnya. Seketika ia berdiri, ketika melihat seorang pria dengan pakaian serba hitamnya. Lelaki itu datang menghampiri Marco dengan sebuah amplop coklat berukuran besar di tangannya. “Maaf, aku terlambat.” Lelaki itu langsung duduk di kursi, tepat di hadapan Marco tanpa menunggu perintah. Ia menopangkan satu kaki ke atas kaki lainnya dengan punggung bersandar dengan nyamannya. Marco kehilangan kata-katanya. Ia tak terbiasa menghadapi makhluk yang seola

