Bab 23

1151 Kata

Marco terbangun dari tidurnya. Napasnya terengah. Ia merasa mimpinya barusan begitu nyata. Mungkin karena beberapa hari terakhir Cassandra dan dia telah terlibat banyak masalah. Jam menunjuk ke angka dua. Tak terasa sudah satu jam ia tertidur di ruang kerja kakaknya itu. Ia berdiri dan menegakkan badannya. Dilangkahkannya kakinya menuju kamarnya sendiri. Dengan matanya masih terasa berat, ia merebahkan tubuhnya ke atas pembaringannya yang empuk. Pagi tanpa Bik Sum terasa dingin. Tak ada makanan hangat yang tersaji di atas meja. Cassandra duduk di depan meja makan dengan kedua tangan menyangga kepalanya. Ia menatap lelaki muda dengan apron di pinggangnya, sibuk mengaduk isi wajan penggorengan di depannya. Wajah tampan si pemilik kumis tipis itu menjadi pusat perhatiannya. Seandain

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN