Diremasnya kertas yang ada di dalam genggamannya dengan perasaan marah. “Berani sekali bocah itu mengajak Cassandra kabur dari rumah!” geramnya. Tanpa berpikir lebih lama, Marco setengah berlari keluar dari rumah itu. Kini ia tahu, kemana dia harus mencari keponakannya itu. *** “Kamu yakin?” tanya Fritz sekali lagi. “Iya. Dan sebaiknya kita pergi sekarang, sebelum pikiranku berubah.” Cassandra memasang kembali benda bulat itu dikepalanya. Dikencangkannya tas ransel di punggungnya. Fritz tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana tidak, gadis yang disukainya menerima ajakannya untuk kawin lari! Ajakan yang sebenarnya berawal dari keisengannya saja. Lelaki itu menutup kaca helm teropongnya setelah melihat lembaran kertas di tangannya. Sebuah lembaran bertuliskan sebuah alamat yang dib

