“Marco.” Zissy mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. “Apa kamu yakin kita nggak salah jalan?” Hatinya menciut saat melihat jalanan yang dilaluinya tak selebar semula. Jalanan itu semakin menciut dan terjal. Bukan hanya itu, medan tak beraspal itu bahkan memperlihatkan jurang di salah satu sisinya dan itu cukup membuat nyalinya menciut untuk terus maju. “Seharusnya kita berada di tempat yang tepat. Kamu bisa lihat titik itu, kan?” sahut Marco menunjuk pada layar GPS nya. “Tapi … nggak mungkin mereka ke tempat terpencil seperti ini. Tak ada rumah, tak ada toko atau apapun. Bahkan jalanannya rusak seperti ini,” omel Zissy. “Apa jadinya jika mobil kita mogok, kehabisan bensin atau … lebih parah lagi jika tiba-tiba ban kita meletus atau ada ….” “Kenapa kamu jadi paranoid?” tegur Mar

