“Tolong jangan katakan kalau kakakku adalah pelakunya,” potong Marco. Ia mendadak gugup. Jantungnya berdebar karena tak sanggup menghadapi kenyataan seandainya saja Irfan benar-benar ayah biologis kekasihnya. Suara tawa terdengar dari dalam ponselnya, seolah lelaki itu sedang menikmati rasa penasaran dari orang yang membayar jasanya. “Tidak … tidak. Pada kenyataannya kasus ini tidak pernah tersebar ataupun diberitakan. Semua saksi bungkam karena ayah Marini menginginkannya.” “Mustahil!” “Itu hal biasa yang dilakukan oleh orang-orang kaya pada umumnya. Mereka tidak mau reputasinya hancur hanya karena kesalahan yang dibuat oleh anaknya.” Marco merasa kesal. Lagi-lagi ia tak mendapat informasi yang cukup berarti. Semua penyelidikannya seperti berjalan di tempat. “Menurut kesimpula

