Setelah kejadian Ezra marah-marah di kafe tadi, akhirnya Laluna pun memilih untuk mengalah dan pindah ke meja lain yang jaraknya nggak jauh dari meja sebelumnya. Wanita itu nggak ingin membuat suasana kafe menjadi nggak nyaman sehingga para pengunjung berhamburan pergi hanya karena ia yang ngotot ingin duduk di kursi pilihannya, padahal sudah dilarang oleh sang pemilik kafe. Ya, dari cerita sang manajer-lah Laluna menangkap bahwa kafe ini sudah menjadi milik Ezra. Wanita itu sejujurnya sedikit tercengang pada fakta tersebut. Ia bertanya-tanya di dalam hati apa sebenarnya alasan pria itu membeli kafe ini. Kalau karena kenangan yang tersisa, sudah pasti itu adalah sebuah kemustahilan menurut Laluna. Pria itu saja berpura-pura nggak mengenalinya, jadi manalah sudi ia harus menggelontorkan s