Gya Sangster memasuki sebuah restoran mewah di hadapannya. Suara heels yang ia kenakan terdengar seperti melodi lembut di telinga siapa pun yang mendengarnya. Paras cantik nan elegan itu sontak menarik perhatian banyak lelaki yang berada di dalam ruangan.
Termasuk sosok pria yang sejak tadi duduk menyesap kopi di tangannya.
Senyumnya tidak pudar. Justru semakin melebar ketika melihat siapa yang sedang ditemui oleh Gya.
Bella.
Perempuan cantik yang namanya begitu terkenal di mata dunia. Perempuan yang kini telah menjadi milik seorang Alden Jhonson. Hanya dengan mengingat nama suaminya saja sudah cukup membuat pria itu kesal.
Sebaiknya dia segera pergi dari tempat ini sebelum ada yang menyadari keberadaannya.
"Sam?"
Suara itu membuat pria yang dipanggil Samuel tersebut menoleh. Alden berdiri di belakangnya.
Samuel tersenyum, meski terlihat sedikit dipaksakan.
"Bagus kamu di sini," ujar Alden santai. "Ada yang ingin aku bahas bersama Alberto mengenai Proyek Nusantara."
Samuel mengangguk tipis.
Namun tatapannya sempat kembali mengarah ke arah Gya sebelum akhirnya ia berdiri.
⸻
Di sisi lain restoran.
Gya menatap Bella dengan bingung. Sejak tadi sahabatnya itu hanya diam, menatap entah ke arah mana. Tanpa banyak bicara, Bella kemudian membawa Gya menuju sebuah ruangan VVIP.
Di dalam ruangan itu sudah ada Angel yang duduk santai sambil menikmati minumannya.
Tidak jauh dari sana, Aurelia duduk sambil mengawasi kedua anak kembarnya yang sedang bermain.
Gya selalu kagum pada Aurelia.
Meski hidupnya pernah hancur berkeping-keping, perempuan itu tetap mampu berdiri dengan percaya diri. Jika berada di posisi Aurelia, mungkin Gya tidak akan sekuat itu.
Mungkin ia sudah menyerah sejak lama.
"Aluna dan Azzura... mereka sudah menikah, bukan?"
Pertanyaan Bella tiba-tiba memecah keheningan setelah Gya selesai memesan makanannya.
"What?!" reaksi Gya spontan.
Bella dan Angel saling berpandangan.
Berarti Gya juga tidak tahu.
Bella menarik napas panjang.
"Ada banyak hal yang belum pernah aku ceritakan pada kalian," ujarnya pelan.
Semua mata kini tertuju padanya.
"Ketika tragedi dalam kisah Kak Acel dan Jesika terjadi... aku kehilangan anak pertamaku."
Suasana ruangan mendadak sunyi.
"Lalu saat tragedi Kak El dan Kak Alexa... kejadian yang sama terulang lagi."
Bella tersenyum pahit.
"Alden tahu kalau aku mengalami keguguran berulang kali. Tapi selama ini hanya aku yang terus berpikir bahwa aku mandul."
Angel terlihat terkejut. Gya bahkan tidak tahu harus berkata apa.
Bella lalu menghela napas dan mengalihkan pembicaraan.
"Pertemuan ini sebenarnya bukan untuk membahas itu. Sekarang aku sedang menjalani program kehamilan lagi."
Ia menatap ketiga sahabatnya satu per satu.
"Setelah pertemuan ini aku akan pergi ke Dubai. Aku akan bertemu sahabatku, Denada."
Bella lalu menatap Gya lagi.
"Tapi melihat kamu tidak tahu tentang Aluna dan Azzura... sepertinya mereka memang menyimpan rahasia itu hanya untuk mereka sendiri."
Bella sedikit menyipitkan mata.
"Pernahkah mereka menyinggung tentang diriku?"
Gya menggeleng pelan.
"Sifat mereka berubah sejak orang tua mereka meninggal," jawab Gya pelan. "Aku tidak tahu apakah itu hanya perasaanku... tapi aku yakin ada seseorang yang sedang memanfaatkan keadaan ini untuk memecah hubungan kita."
Bella tersenyum tipis.
"Kamu benar."
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Dan mereka sudah terjebak di dalamnya."
Nada suaranya berubah dingin.
"Aku tidak akan memaafkan mereka."
Bella menatap Gya dengan serius.
"Yang sekarang bisa aku selamatkan hanya kamu."
Gya mengernyit.
"Jauhi Sabrina, Samuel, dan Andin."
Nama-nama itu membuat Gya terdiam.
"Ketiganya punya rencana," lanjut Bella. "Dan seperti apa rencana mereka... bahkan aku tidak bisa menebaknya."
Bella menatap lurus ke mata Gya.
"Tapi satu hal yang pasti... mereka memiliki dendam yang sama terhadap keluargamu."
Gya terdiam. Otaknya seperti berhenti bekerja.
Tidak mungkin Bella mengucapkan hal itu tanpa alasan.
Pasti ada sesuatu yang ia ketahui.
"Gya," Bella kembali berbicara dengan nada lebih lembut. "Aku memang sahabatmu. Aku tidak berhak memaksamu melakukan apa pun."
Ia menggenggam tangan Gya.
"Tapi kamu harus tahu... di dunia ini hanya kami yang benar-benar peduli padamu."
Bella menarik napas.
"Jika suatu saat kamu terjebak dalam permainan mereka... carilah aku."
Tatapannya hangat.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
Namun kemudian nada suaranya berubah tegas.
"Dan satu hal lagi."
Bella menatap Gya dalam-dalam.
"Menjatuhkan cintamu pada orang yang salah... bukan hanya kamu yang akan tersakiti."
Ia berhenti sejenak.
"Anakmu juga akan menjadi korban."
Gya terdiam.
"Aku melihat dirimu seperti melihat almarhum ibuku dulu," lanjut Bella. "Sebagai sahabat, aku tidak ingin kamu terjebak oleh pesona Samuel Aldebaran."
Bella menyeringai kecil.
"Meski sekarang kamu menyangkal... kamu tidak bisa membohongi hatimu sendiri."
Angel menahan napas.
Bella melanjutkan kalimatnya dengan santai.
"Sejak lama kamu punya perasaan pada sahabat kakakmu itu, bukan?"
Gya tersenyum kecil.
"Kamu benar."
Ia menatap meja di depannya.
"Tapi aku ingin menjalani semuanya sendiri."
Gya kembali menatap Bella.
"Tenang saja. Jika suatu saat hidupku benar-benar dihancurkan oleh mereka... aku tidak masalah."
Angel dan Aurelia terlihat terkejut.
"Asalkan anak yang akan aku lahirkan kelak mendapatkan perlindungan penuh dari keluargamu."
Bella mengerutkan kening.
"Maksudmu?"
Angel bahkan ikut menatap Gya dengan bingung.
Aurelia yang sejak tadi fokus pada anak kembarnya pun kini ikut memperhatikan.
"Jika suatu hari kita tidak bisa bertemu lagi," kata Gya pelan, "tolong jadikan anakku bagian dari keluargamu."
Ruangan kembali hening.
"Berikan kebahagiaan untuknya."
Gya tersenyum lembut.
"Maaf jika pertemuan hari ini menjadi pertemuan terakhir kita."
Bella menatapnya tajam.
"Kamu tidak akan datang ke pernikahanku?" tanya Angel tiba-tiba.
Gya menggeleng.
"Tidak."
Ia menarik napas pelan.
"Sejak pertemuan kita dengan Sabrina waktu itu... aku merasa dia memiliki rencana."
Gya menatap mereka satu per satu.
"Dan rencana itu berbahaya."
Ia tersenyum tenang.
"Mungkin lebih baik aku tidak terus berada di sekitar kalian."
Aurelia akhirnya ikut berbicara.
"Gya benar," katanya pelan. "Bella, kamu berhak fokus pada hidupmu sendiri setelah bertahun-tahun sibuk mengurus kehidupan saudara-saudaramu."
Ia menatap Bella.
"Nikmati saja waktumu di Dubai."
Aurelia kemudian menoleh ke arah Gya.
"Untuk urusan Gya... biar aku yang membantunya."
Bella akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah."
Ia tersenyum lembut.
"Jika ini benar-benar pertemuan terakhir kita... aku hanya bisa berdoa agar kebahagiaan selalu menyertaimu."
Bella lalu menatap Gya dengan serius.
"Dan jika apa yang kamu khawatirkan benar-benar terjadi... aku akan memenuhi semua permintaanmu."
Bella lalu menambahkan dengan suara lebih pelan.
"Ingat satu hal."
"Jangan terlalu percaya pada siapa pun."
Ia menyebut beberapa nama.
"Meski Hansuke semanis madu... atau Andin yang terlihat sebaik ibu peri."
Bella tersenyum tipis.
"Mereka semua punya peran masing-masing dalam ceritamu."
Ia lalu menambahkan satu nama lagi.
"Dan Mirna."
Gya terdiam.
"Perempuan yang setiap malam menghangatkan ranjang Samuel."
Angel langsung menatap Bella terkejut.
"Hati-hati dengannya," lanjut Bella. "Dia bekerja sama dengan orang besar."
Bella menghela napas.
"Begitu juga Sabrina."
Ia menatap Gya.
"Jika kamu ingin menjebak mereka... lakukan sekaligus."
Bella tersenyum samar.
"Kamu pintar. Kamu pasti tahu harus melakukan apa."
Kecuali...
"Kamu memang memilih untuk menyerah."
Gya menunduk pelan.
Menjebak orang lain bukanlah sesuatu yang mudah baginya.
Ia tidak setega itu.
"Sulit bagimu, ya?" ujar Aurelia. "Padahal orang-orang di sekitarmu sangat munafik."
Ia menatap Gya dengan tajam.
"Bahkan sejak pertama kali melihat Samuel dan Hansuke... aku sudah merasa tidak nyaman."
Aurelia bukan takut.
Ia hanya merasa kedua pria itu menyimpan rahasia besar.
Rahasia yang belum diketahui siapa pun.
Gya akhirnya mengalihkan topik.
"Jadi setelah ini kamu langsung ke Dubai?"
Bella mengangguk.
"Kedua kakakku sudah bahagia dengan keluarga mereka. Tinggal menunggu anak-anak mereka lahir."
Ia tersenyum kecil.
"Bian dan Billy juga hanya menunggu kejujuran dari Aluna dan Azzura."
Bella menghela napas.
"Setelah itu... aku ingin fokus pada hidupku sendiri."
Gya tersenyum hangat.
"Semoga perjalananmu di sana membuahkan hasil."
Angel langsung tertawa.
"Dia bukan mau bulan madu," katanya menggoda.
Angel menyeringai.
"Dia mau menjebak saudara tirinya."
Gya langsung teringat satu nama.
Tiara Ar-Rasyid.
Perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Raisa.
Aneh rasanya.
Kenapa perempuan itu baru muncul sekarang ketika semuanya sudah hancur?
"Aku hampir lupa perempuan itu!" seru Gya.
Ia tertawa kecil.
"Jebak dia. Buat dia sadar sedang melawan siapa."
Gya mengangkat gelas minumnya.
"Jangan kalah dari perempuan medusa itu. Aku dukung kamu!"
Tawa mereka pecah di ruangan itu.
Siang itu mereka berbagi cerita, rahasia, canda, dan harapan.
Tanpa satu pun dari mereka menyadari—
bahwa di masa depan,
badai besar sudah menunggu.
Dan ketika badai itu datang...
ia tidak akan menyisakan siapa pun.
****