“Ya,” sahutnya seraya menutup pintu lalu duduk di lantai dan bersandar memeluk lutut. Lexi juga duduk di sampingnya. “Mau cerita?” katanya. Emi termangu, dia menoleh dan melihat Lexi tengah menatapnya. Dia melihat kedua bola mata laki-laki itu yang ternyata memiliki sedikit warna terang di dalam retinanya. “Emi?” Emi mengerjap, dia buru-buru memalingkan wajahnya dengan gugup. “Maksudnya apa?” ujarnya pura-pura tak mengerti. Lexi menghela nafas, dia lalu meluruskan kepalanya lagi dan menatap lukisan mural buatan Edu yang tergantung di dinding sana. “Aku juga punya rahasia,” kata Lexi yang membuat Emi terpaku diam mendengarnya. Terdengar helaan nafas panjang dari laki-laki itu. “Aku melarikan diri dari rumah, memilih tinggal bersama kedua anak itu dan mengamen untuk makan sehari-hari