Agatha meninggalkan Ethan sendiri di depan swalayan itu. Awalnya Ethan sempat terkejut melihat perubahan Agatha lalu senyum samar terbit di bibir Ethan.
Dia ingat sesuatu tentang Agatha sebelum bertemu lagi dengan nya kemarin bersama Emma.
Flashback on
"Ethan, kau yakin tak pernah tertarik dengan semua wanita itu? Kau bisa pilih salah satu sebagai hadiah. Mereka akan dengan senang hati memberikan service terbaik untukmu."
Ethan masih menenggak minumannya dengan santai. Malam ini dia menang balap liar, dengan hadiah yang lumayan besar.
"Mereka terlalu murah untukku yang mahal!" jawab Ethan sekenanya.
Ethan selalu tahu apa yang dia mau tanpa ingin di atur oleh orang lain.
Ethan terkenal dingin dengan para wanita yang mendekatinya. Ethan tak pernah mau disentuh oleh mereka. Balap liar sebagai hobinya jika ada yang mengajaknya. Dia lebih memilih menghabiskan waktunya di bengkel. Club malam yang dia datangi malam ini juga miliknya meskipun bukan secara langsung. Tapi tak pernah ada yang tahu kecuali satu orang kepercayaan nya.
Sahabat Ethan yang mendengar jawaban itu langsung terbahak. Dia tak lagi memaksa Ethan untuk menerima salah satu dari wanita itu. Saat Ethan meminta satu botol minuman baru, tak sengaja matanya menangkap satu sosok wanita yang sedang minum sendirian. Sahabat Ethan mengikuti arah pandang Ethan.
"Wanita itu sudah beberapa hari ini sering kesini. Anehnya dia hanya minum sendiri. Meskipun minum banyak sepertinya dia tak bisa mabuk sama sekali."
Ethan masih terus memperhatikan wanita itu, dan tak lama seseorang menghampirinya. Membuat mata Ethan membola. Senyum samar terbit di wajah Ethan.
"Kalau dia kemari lagi, jangan ada yang ganggu dia. Jaga dari jarak jauh, kalau ada apa apa segera hubungi aku."
Sahabat Ethan melongo mendengar itu, mengerjap tak percaya. Bisa bisanya hanya satu kali tatap Ethan langsung seperti itu.
"Wow, apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu? Kau langsung tertarik hanya dengan sekali melihat? Wah, dia hanya duduk, tanpa berusaha merayu mu. Benar benar luar biasa!"
Sahabat Ethan sampai tak percaya dengan apa yang dia dengar. Menyuruh anak buah mereka untuk menjaganya setiap perempuan itu datang ke club malam miliknya.
Sedangkan di depan sana, wanita itu sedang terkena omelan.
"Agatha kau gila, kenapa minum sebanyak ini? Kau bisa masuk rumah sakit lagi."
"Diam lah Emma, kau benar benar berisik!"
flashback off
Ethan masih terus mengawasi kepergian Agatha yang terlihat menghindarinya.
"Ternyata masih bisa bertemu dengan nya. Menarik sekali!"
Ethan lalu berbalik pergi dari sana, sementara Agatha buru buru kembali ke apartemennya.
Saat dia tiba di apartemennya, dia mengambil segelas air minum lalu menghabiskannya dengan cepat. Dia bahkan menepuk pipinya keras.
"Agatha jangan gila, Ethan lebih pantas jadi adikmu. Jangan karena kau sakit hati kau lalu cari pelampiasan dengan brondong!" umpat Agatha kesal.
Bisa bisanya dia terpesona dengan Ethan. Rasanya dia bisa gila jika terus bertemu dengan Ethan seperti itu.
Agatha memilih segera beristirahat agar besok dia bisa langsung mengurus pembatalan nikahnya dengan Frangky. Masih banyak hal yang harus dia lakukan untuk membalas perbuatan Frangky juga keluarganya. Mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.
#
Ethan kembali ke rumah orang tua angkatnya. Dia tak langsung menuju kamarnya melainkan menemui ayah angkat nya.
"Ayah, dimana?" tanya Ethan kepada pelayan.
"Tuan besar ada di ruang baca, tuan muda."
Ethan mengangguk lalu pergi ke ruang baca milik sang ayah.
Galen yang awalnya fokus dengan buku yang dia pegang mengerutkan keningnya ketika melihat Ethan ada di ambang pintu.
"Tumben sekali kau pulang kemari? Apa ada masalah?"
Ethan mendekat, dan duduk di dekat ayahnya.
Dia tak langsung menjawab pertanyaan sang ayah.
"Ayah, aku ingin bertanya hal serius dengan mu."
Galen yang tak biasa melihat Ethan seperti ini semakin penasaran dengan putranya itu.
"Ada apa? Kau butuh sesuatu?"
Ethan mengambil napas panjang lalu menghadap ayahnya dengan wajah serius.
"Ayah, apa jika aku menyukai wanita yang lebih dewasa dari ku ayah dan mama bisa terima?"
Mata Galen sempat membola, lalu terdiam sejenak. Dia menimang jawaban yang pas untuk putranya itu. Putra yang tak pernah menuntut apa apa darinya. Tapi Galen paham betul jika Ethan sudah bersikap seperti ini, berarti dia sedang menginginkan benar benar.
"Kau tertarik pada siapa Ethan? Apa ayah mengenalnya?"
"Iya dan tidak!"
Jawaban Ethan membuat Galen semakin bingung.
"Dia tak kenal dengan ku, tapi aku kenal dengan nya. Dan...."
Ethan tak langsung melanjutkan perkataannya.
"Dan aku sudah menyukainya sejak lama!"
Galen tercengang karena tak biasanya Ethan seperti ini. Sudah lama sekali semenjak Galen membawanya pulang ke rumah. Dan baru ini Ethan benar benar bicara dengan wajah yang tak biasa.
Galen masih bingung, tapi melihat Ethan sangat yakin barulah Galen paham kalau kali ini Ethan akan melakukan semua cara agar Agatha bisa bersamanya.
"Baiklah, ayah paham. Tapi satu hal yang harus kau tahu, sekalinya kau cinta pada nya terlebih dahulu dan dia belum bisa menerima mu, jangan pernah memaksanya. Buat dia jatuh cinta dengan mu karena dia tahu kalau kau tulus kepadanya."
Ethan menatap Galen lalu tersenyum tipis.
"Tak usah tersenyum seperti itu. Ayah tahu apa yang ada di otakmu Ethan. Jangan buat dia tak nyaman dengan mu."
Ethan berdehem, tapi kemudian dia menghela napas panjang. Tiba tiba sekali dia ingat kejadian tadi ketika Agatha kabur darinya dan terlihat takut.
"Ah, ayah.... sepertinya anakmu ini akan sering sakit hati karena di tolak!" keluh Ethan.
Galen tertawa terbahak mendengar itu, dan rasanya dia baru melihat Ethan seperti ini padahal belum berjuang sama sekali. Berbeda ketika Ethan sedang bekerja dan menemui kesulitan. Dia tak akan langsung mengeluh, tapi akan mencari jalan keluarnya dengan cepat.
Ethan akhirnya mengobrol tentang usaha bengkelnya yang sebentar lagi juga akan buka cabang kembali.
"Ethan, bengkel yang baru kapan kau akan membukanya secara resmi?"
"Setelah mendapatkan menantu untuk ayah." sahut Ethan cepat.
Galen menggelengkan kepalanya mendengar jawaban itu.
Setelahnya Ethan memilih keluar dari ruang baca Galen. Saat dia keluar ruangan dia bertemu Emma yang baru saja datang.
"Kau tumben pulang kesini?"
Emma melirik Ethan yang duduk di ruang tengah.
"Kau darimana? Kenapa malam sekali pulangnya?"
Emma berdecak kesal karena Ethan malah balik bertanya kepadanya. Bukan menjawab pertanyaan nya tadi.
Ctak.....
Emma menjitak kepala Ethan karena kesal. Ethan meringis dan menatap Emma dengan tajam.
"Kebiasaan kalau di tanya orang tua!"
Emma duduk bersebrangan dengan Ethan yang terlihat sedang memainkan ponselnya.
"Ethan.... apa aku boleh bertanya?"
Ethan mengalihkan pandangannya dari ponsel nya. Lalu menunggu Emma yang sedang ingin bertanya kepadanya.
"Kau kenal dengan Agatha?"
Ethan tak langsung menjawab, karena Emma tiba tiba sekali bertanya soal Agatha kepadanya.
"Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Saat kau berjabat tangan denganya kau terus memperhatikannya. Kau bukan laki laki yang senang dekat dengan perempuan, apalagi mau bersentuhan secara langsung."
Ethan tersenyum tipis, tapi dia tak kunjung menjawabnya.
"Kau terlalu banyak berpikir."
Ethan bangkit dari duduknya lalu pergi dari hadapan Emma.
Emma yang tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan mendengus kesal.
Tapi langkah Ethan berhenti dan membuat Emma bertanya dalam hati.
"Kenal dan tidak, tapi kau akan tahu nanti."
Emma berpikir keras dengan jawaban Ethan lalu kemudian sebuah pertanyaan kembali muncul dalam benaknya.
"Tak mungkin Ethan suka sama Agatha?"
Mata Emma mengerjap lucu saat pertanyaan itu tiba tiba muncul begitu saja.
"Tapi kalau sama Ethan pun aku tak masalah. Ethan pasti tak akan macam macam pada Agatha." gumam Emma pelan.
"Siapa yang mau sama Ethan? Adikmu punya kekasih?"
Emma terlonjak kaget ketika sebuah suara tiba tiba terdengar di dekatnya. Emma mengusap dadanya dan menoleh, ternyata Ayah dan mamanya menatap Emma aneh.
"Kalian kenapa tak bersuara? Seperti hantu saja."
"Kau yang sejak tadi melamun. Tadi aku dengar suara Ethan, kenapa sekarang tak ada? Kemana adikmu?"
Narasya celingukan mencari keberadaan Ethan tapi tak menemukan Ethan dimana mana.
Emma mengedikkan bahunya tanda tak tahu. Natasya terlihat sedih karena dia belum bertemu dengan Ethan beberapa hari ini.
"Mama seperti tak tahu saja bagaimana putra kesayangan mama. Apalagi dia sepertinya dia sedang jatuh cinta. Mungkin bakal sering menginap diluar." ceplos Emma asal.
Galen menatap Emma langsung yang membuat Emma merasa tak hanya Ethan yang aneh tapi juga Ayahnya.
"Ayah kenapa melihatku seperti itu? Apa aku salah bicara?"
to be continued