Suasana kantor pagi ini terasa tegang. Serena sedang sibuk mengatur berkas-berkas di mejanya ketika pesan dari sekretaris rapat dewan masuk ke ponselnya, memberitahu adanya rapat mendadak yang harus dihadiri Devan. Wajah Serena langsung pucat, jantungnya berdebar kencang. Begitu melihat Devan memasuki lobby kantor dengan langkah santai, ia segera menghampirinya. “Devan,” panggilnya dengan nada serius. “Baru saja ada pemberitahuan. Rapat dewan mendadak diadakan pagi ini. Semua direksi sudah menunggu.” Devan yang baru saja melepas jas dari pundaknya tampak terkejut. Alisnya berkerut, sorot matanya tajam. “Mendadak? Untuk apa?” tanyanya. Serena menggeleng, “Aku nggak tahu apa agendanya. Mereka nggak menjelaskan.” Devan mendesah panjang, lalu menatap Serena dengan tatapan yang sedikit mele

