Bodyguard Seksi Alessa

1230 Kata
"Gila memang," ucapnya. Ucapan Dominic tentang hukuman terus berputar di kepalanya, mengganggu tidur nyenyaknya. Ia menyambar ponsel dari meja nakas dengan gerakan kasar. Layar menyala, tapi bar sinyal kosong melompong. "Ayo lah, jangan mati sekarang," desisnya pada benda mati itu. Jemarinya menekan ulang nomor ayahnya. Hening. Tidak ada nada sambung sama sekali. Alessa mendengus kasar, melempar ponsel itu ke kasur lalu memungutnya lagi dengan frustrasi. "Serius? Ini vila atau gua hantu?" Ia membuka aplikasi chat dengan jari gemetar. Pesan yang ia kirim semalam hanya berakhir dengan satu centang abu-abu. Tidak ada balasan. Foto profil sang ayah bahkan lenyap mendadak. "Dikunci? Yang benar saja." Alessa tertawa sumbang, suaranya memantul di dinding kamar yang sunyi. "Dia benar-benar memutus aksesku ke dunia luar? Dasar gila." Gadis itu bangkit berdiri. “Ayah macam apa sih! Ah, aku lupa dia nggak pantas jadi ayah!” Ia berjalan mondar-mandir, pinggulnya bergoyang gelisah seiring langkah kakinya yang menghentak lantai. Ia mencoba mengangkat ponsel tinggi-tinggi, lalu naik ke kursi, bahkan menjulurkan tangan keluar jendela dengan putus asa. "Nggak ada signal sama sekali? Masih? Sialan!" umpatnya keras. Usaha konyol itu berakhir dengan ponsel yang nyaris tergelincir dari genggamannya yang berkeringat. "Aku benar-benar dikurung di antah berantah." Langkahnya terhenti tiba-tiba. Tekadnya membulat. Ia menyentak pintu kamar dan melangkah keluar dengan napas memburu. "Aku harus bicara sama si om-om ngeselin itu, nggak mau tau!!" Namun baru dua langkah kakinya menapak lorong, suara pintu lain terbuka di ujung sana. Dominic muncul. Dan seketika itu juga, seluruh kata-kata makian di ujung lidah Alessa lenyap tak berbekas. Tubuh bagian atas pria itu telanjang sepenuhnya. Kulitnya yang sewarna tembaga basah berkilauan, memantulkan cahaya lampu lorong yang redup. Sisa air menetes dari ujung rambutnya yang hitam pekat, meluncur lambat melewati rahang tegas, menelusuri leher yang kokoh, lalu turun membasahi d**a bidang yang berotot padat. Handuk putih melilit pinggangnya dengan ceroboh. Sialan! Kenapa itu sangat rendah. Hanya beberapa inci di atas batas yang bisa disebut sopan, memperlihatkan alur otot perut yang terpahat sempurna dan garis panggul yang menggoda iman. Alessa terpaku di tempatnya. Ia lupa cara berkedip. Detak jantungnya menghantam rongga d**a dengan liar. Ada panas aneh yang merayap cepat dari leher, membakar telinganya, lalu turun berkumpul di perut bawahnya. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. Ia ingin memalingkan wajah, tapi matanya seolah terhipnotis oleh pemandangan menggoda. Dominic tidak memedulikan tatapan lapar gadis itu. Ia berjalan santai menuju tangga. Setiap gerakan otot punggungnya terlihat jelas saat ia melangkah tanpa bicara sepatah kata pun. "Kamu..." Suaranya keluar seperti cicitan. Ia berdeham keras. "Kamu sengaja, ya?!” Dominic berhenti. Kakinya menapak di anak tangga teratas, lalu kepalanya menoleh perlahan lewat bahu. Tetesan air jatuh dari dagunya ke lantai. "Sengaja apa?" tanyanya datar. "Nggak ada sinyal. Internet mati. Akses ke Ayah putus. Kamu menikmati ini, kan?" Alessa memaksa matanya menatap wajah Dominic, berjuang keras untuk tidak melirik ke arah handuk yang melorot itu. "Ayahmu baik-baik saja," jawab Dominic. "Komunikasi dibatasi atas permintaan dia sendiri." "Omong kosong! Sejak kapan ayahku menolak bicara denganku?" Dominic memutar tubuhnya sedikit, menatap Alessa dengan sorot mata yang gelap. "Sejak dia sadar putri kecilnya butuh tali kekang." Alessa mengerang tertahan. Panas di wajahnya semakin menjadi-jadi. "Jadi sekarang kamu yang pegang talinya? Kamu pikir kamu siapa, hah?" Pria itu berbalik penuh menghadap Alessa. "Aku orang yang ditunjuk untuk membuatmu menurut, Alessa." "Aku bukan anak kecil!" serunya, berusaha terdengar berani meski napasnya tersengal. "Secara fisik, jelas kamu bukan anak kecil. Tubuhmu sudah mengatakannya dengan jelas. Tapi mentalmu belum cukup dewasa untuk tahu mana batas yang tidak boleh dilanggar." "Kalau kamu pikir bisa mengontrolku, kamu salah besar. Aku pernah lari dari asrama, aku pernah kabur pakai mobil teman ayah, bahkan aku pernah—" "Simpan daftar kenakalanmu. Aku tidak tertarik mendengarnya." Alessa mengetatkan rahangnya. Dadanya naik turun dengan cepat, menahan emosi yang meledak-ledak. Dan Dominic menyadari ke mana arah mata gadis itu memandang. Pria itu melangkah naik kembali, mendekat satu langkah ke arah Alessa. "Sampai kamu sadar di mana tempatmu, semua aksesmu tetap dikunci." Alessa menunjuk d**a telanjang pria itu dengan jari telunjuk yang gemetar. "Kamu nggak punya hak!" Dominic menatap jari itu, lalu beralih menatap mata Alessa dalam-dalam. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai tipis yang berbahaya. "Aku punya kuasa, Sayang. Dan itu jauh lebih mematikan daripada sekadar hak." Lalu dia berbalik, berjalan turun dan menghilang di balik tangga. Alessa berdiri kaku di lorong yang sunyi. Tenggorokannya tercekat. Wajahnya panas membara. Bukan hanya karena marah. Tapi karena tubuhnya bergetar hebat merespons kedekatan mereka tadi. Ada sensasi basah dan hangat yang berdenyut di antara kedua pahanya, sebuah reaksi tubuh yang pengkhianat. "Sialan! Kenapa dia harus seseksi itu!" umpatnya lirih sambil meremas rambutnya sendiri. *** Alessa menatap layar ponselnya dengan mata berbinar saat bar sinyal tiba-tiba muncul penuh di pojok kanan atas. Indikator Wi-Fi menyala terang, seolah mengejeknya. Ia mengerjap, memastikan itu bukan halusinasi akibat terlalu lama terisolasi. Sambungan data menyusul aktif detik berikutnya. "Astaga. Akhirnya!" Desahan lega lolos dari bibirnya. Ia bangkit dari kursi, tubuhnya berputar kecil di tengah dapur dengan euforia. Gaun tidurnya berkibar menampakkan paha mulusnya. "Gila!! Aku terhubung lagi dengan dunia nyata." Ia tidak habis pikir bagaimana Dominic bisa mengendalikan koneksi semudah membalikkan telapak tangan. Pria itu seolah punya tombol ajaib yang bisa mematikan dan menghidupkan dunia Alessa sesuka hatinya. Tapi otak Alessa menolak memikirkan betapa mengerikannya kekuasaan itu sekarang. Yang penting, ia bisa menghubungi Lou. Jemarinya lincah menekan nama sahabatnya di layar. Panggilan tersambung. Hanya dua dering sebelum suara cempreng yang familiar terdengar. "Alessa?! Demi Tuhan, kamu masih hidup?" Alessa tertawa renyah, tawa pertamanya sejak tiba di tempat terkutuk ini. "Hidup, Lou. Tapi nyaris gila karena bosan." "Kamu ke mana aja, Babe? Aku pikir kamu udah diculik sindikat perdagangan manusia. Chatku cuma centang satu, kamu kayak hilang ditelan bumi." "Yah, situasinya mirip begitu. Aku dikirim ke vila sahabat ayahku. Ternyata orangnya psikopat m**i-aturan." "Serius? Ganteng nggak?" Alessa melirik ke arah pintu tempat Dominic menghilang tadi. Bayangan d**a bidang yang basah dan handuk yang melorot itu kembali menyergap ingatannya. Wajahnya merona lagi. "Tua. Dingin. Dan menyebalkan. Satu rumah cuma berdua, bayangin betapa kaku suasananya." "Oke, itu creepy tapi kedengarannya seksi kalau di novel dark romance." Alessa mendengus geli sambil berjalan ke ruang tengah. "Ini bukan novel, Lou. Ini siksaan." "Omong-omong, ada kabar penting." "Apa?" "Besok malam pesta ulang tahun Zian. Di kelab pusat kota. VIP." Alessa langsung berhenti melangkah. Tubuhnya menegang. "Sial. Aku benar-benar lupa." "Jelas lupa. Pacarmu sendiri loh. Kamu bahkan nggak balas ucapan manis dia kemarin di i********:. Dia nyaris ngamuk." Alessa memijat pelipisnya. "Kepalaku terlalu penuh dengan aturan si tuan rumah gila ini." "Zian cari-cari kamu terus. Dia curiga kamu main gila sama cowok lain. Kamu tahu kan cemburunya dia kayak apa?" Alessa tersenyum sinis. "Zian terlalu drama. Dia tahu aku disuruh ayah ke luar kota." "Tapi ini ulang tahun dia, Al. Semua teman bakal datang. Kamu ratunya, masa nggak muncul?" Alessa menatap tangga menuju lantai dua. Kamar Dominic ada di sana. Larangan pria itu terngiang jelas di telinganya. Akses ditutup saat gelap. Jangan harap bisa keluar. Sebuah ide gila dan berbahaya mulai tumbuh di benaknya. Melanggar aturan Dominic terasa jauh lebih menantang daripada sekadar pergi pesta. Ia ingin melihat sejauh mana ia bisa memancing emosi pria kaku itu. "Aku akan datang," bisiknya mantap, suaranya penuh tekad. "Serius? Gimana caranya kamu kabur dari vila tua itu?" "Serius, Lou. Apa pun yang terjadi, besok malam aku akan ada di sana. Aku butuh pelarian." Dan mungkin, sedikit hukuman dari sang bodyguard seksi itu tidak akan terlalu buruk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN