Dua minggu berlalu sejak Andre mengumumkan rencana liburan itu. Selama waktu itu, sikap Andre benar-benar berubah. Ia menjadi suami yang hampir sempurna, bangun pagi lebih dulu, menyiapkan sarapan, menanyakan keadaan Aruna setiap beberapa jam, bahkan menolak jika Aruna ingin melakukan pekerjaan rumah yang berat. “Udah, aku aja yang angkat galon,” katanya suatu pagi sambil tersenyum lebar. Aruna hanya diam. Dalam hatinya, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Ia seharusnya senang karena Andre akhirnya memperlakukannya dengan lembut. Tapi setiap kali Andre menyentuh perutnya dan memanggil “bayi kita”, perasaan bersalah itu seperti menekan dadanya dari dalam. Hari keberangkatan tiba. Andre terlihat sangat bersemangat sejak pagi. Ia bahkan bangun lebih cepat dari alarm, memeriksa ulan

