Di jalan raya yang dipenuhi kendaraan lalu-lalang dan gemuruh suara klakson, Kamila melangkah seorang diri tanpa arah. Tak ada taksi online, ojek, atau kendaraan lain yang menemaninya—padahal dia bisa saja memilih cara yang lebih mudah. Tetapi, bukan itu yang Kamila inginkan. Hatinya bergolak, mencari satu jawaban yang telah hilang selama lima belas tahun: siapa dirinya sebenarnya? Siapa keluarga yang harusnya menjadi tempatnya berlabuh? Semua terasa hampa, seperti bayangan samar yang terus menghilang saat dikejar. Kamila yakin, di tengah keramaian dan lautan manusia itu, mungkin saja ada seseorang yang mengenalnya dulu—meski harapan itu nyaris mustahil. Namun, di dunia ini, siapa yang bisa mengatakan bahwa hal mustahil benar-benar tak mungkin terjadi? Sementara itu, di dalam mobil yang