Bab 20 - Harus berhati-hati

1071 Kata
Ricky menjalani hari-harinya seperti biasa. Setelah pulang dari kantor, dia pasti akan bermain dengan Ken dan Luna di kamar bayi setiap malam. Rutinitas ini menjadi pelipur lara di tengah kesedihannya yang mendalam. Melihat senyum dan celotehan kedua buah hatinya, Ricky sejenak melupakan masalah yang menghantuinya. Ricky merasa bersalah karena kesibukannya telah membuatnya lalai terhadap anak-anaknya. Ricky berjalan ke kamar bayi dengan langkah gontai. Mawar menyambutnya dengan senyum lembut. "Selamat malam, Tuan Ricky. Anak-anak sudah menunggu Tuan dari tadi." Ucap Mawar penuh perhatian. Ricky tersenyum tipis. "Selamat malam juga, Mawar." "Boleh saya melihat mereka?" Tanyanya santai, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Mawar tersenyum lembut. "Tentu saja, Tuan. Mari saya antar." Jawabnya, lalu berbalik dan berjalan menuju kamar bayi. Ricky mengikuti Mawar dari belakang, hatinya berdebar-debar. Ia merasa malu karena telah melibatkan dirinya dalam masalah dengan Ranty. Ia takut hal ini akan merusak hubungannya dengan Mawar dan anak-anaknya. Ketika mereka tiba di kamar bayi, Mawar membuka pintu perlahan. Di dalam, Ken dan Luna terbaring di ranjang bayi mereka. Wajah mereka yang polos dan menggemaskan membuat hati Ricky menghangat. Ia mendekat dan menatap kedua buah hatinya dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana keadaan mereka hari ini?" Tanyanya sambil menghampiri kedua bayinya yang sedang terbaring di box masing-masing. "Mereka sehat dan menggemaskan, Tuan. Tadi sore, mereka sudah mulai bisa tengkurap sendiri." Bisik Mawar, berdiri di samping Ricky. Ricky tertawa kecil mendengar cerita Mawar. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Ken dan Luna bergantian. "Anak-anak Papa pintar sekali." Ucapnya dengan nada sayang. Ken dan Luna merespon sentuhan Ricky dengan menggeliat dan mengeluarkan suara-suara lucu. Hati Ricky menghangat melihat tingkah polah kedua anaknya. Ia merasa bersyukur masih memiliki mereka di sisinya. Namun, di tengah kebahagiaan itu, Ricky tak bisa melupakan masalah yang sedang dihadapinya. Ia masih merasa curiga pada Ranty. Peristiwa di ruang kerjanya tadi siang terus berputar di benaknya. Ricky merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mantan sekretarisnya itu. Ia merasa tenggorokannya tercekat. Ia ingin memeluk Mawar dan mengucapkan terima kasih atas semua yang telah ia lakukan untuk anak-anaknya. Namun, ia tidak berani. Ia takut Mawar akan menjauhinya jika ia berani bertindak terlalu jauh. Mawar menoleh ke arah Ricky dan tersenyum. "Tuan Ricky terlihat lelah. Sebaiknya Tuan istirahat saja. Saya akan menjaga Ken dan Luna." Ucapnya lembut. Ricky menatap Mawar dengan lembut. "Terima kasih, Mawar. Kamu sudah banyak membantu saya." Mawar menggelengkan kepalanya. "Saya senang bisa membantu, Tuan. Saya sudah menganggap Ken dan Luna seperti anak sendiri." Ricky terdiam sejenak. Ia tahu bahwa Mawar adalah orang yang baik dan tulus. Ia merasa beruntung bisa memiliki Mawar di sisinya. "Mawar.. Ada yang ingin saya bicarakan denganmu." Ucap Ricky lirih. Mawar menatap Ricky dengan tatapan bertanya. "Ada apa, Tuan?" Ricky menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Ini tentang Ranty." Ucapnya pelan. Mawar mengerutkan keningnya. Ia tidak menyukai nama itu. Ia tahu bahwa Ranty adalah orang yang berbahaya dan licik. "Ranty bilang dia hamil. Dan dia bilang anak itu anak saya." Lanjut Ricky, suaranya bergetar Mata Mawar membulat karena terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa? Dia bilang begitu?" Tanyanya lirih, seolah tidak percaya dengan pendengarannya. Ricky mengangguk. "Saya tidak tahu apa yang terjadi malam itu, Mawar. Saya tidak ingat apa-apa. Tapi Ranty bilang dia hamil, dan saya merasa bertanggung jawab." Mawar terdiam sejenak, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja ia dapatkan. Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak tahu harus berkata apa. "Tuan Ricky percaya padanya?" Tanya Mawar akhirnya, suaranya bergetar. Ricky menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Mawar. Saya bingung. Saya merasa dijebak. Tapi saya juga merasa bertanggung jawab jika memang benar anak itu anak saya." Mawar menatap Ricky dengan tatapan penuh kasih sayang. Ia tahu bahwa Ricky sedang berada dalam situasi yang sulit. Ia ingin membantu Ricky dengan informasi yang dia dapat. "Tuan Ricky tidak bersalah, saya percaya pada Tuan." Ucap Mawar tegas Ricky menatap Mawar dengan tatapan terharu. Ia merasa lega karena Mawar masih percaya padanya. "Terima kasih, Mawar," ucap Ricky tulus. "Kamu adalah satu-satunya orang yang saya percaya saat ini." Saat Ricky hendak pergi, Mawar tiba-tiba memanggilnya. "Tuan, ada yang ingin Mawar katakan." Ucap Mawar dengan nada serius. Ricky menghentikan langkahnya dan menatap Mawar dengan tatapan bertanya. "Ada apa, Mawar?" "Kemarin, saat mawar ingin ke dapur, Mawar melihat sikap Nona Ranty yang mencurigakan. Lalu Mawar lihat sebelum dia masuk ke kamar, dia melihat sekeliling sebelum menutup pintu. Mawar jadi curiga, akhirnya Mawar mendekat ke depan pintu kamarnya. Mawar dengar semua pembicaraan Nona Ranty di telepon dengan seseorang. Sepertinya namamya itu Rendy." bisik Mawar dengan suara pelan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Ricky terkejut mendengar ucapan Mawar. Ia menatapnya dengan tatapan penuh tanya. "Apa yang kamu dengar?" Tanyanya penasaran. "Mawar dengar dia bilang gawat karena Tuan mau melakukan Tes DNA, dia bilang dia sangat cemas jika Tuan Ricky tahu yang sebenarnya. Mawar yakin, Nona Ranty menyembunyikan sesuatu. Tuan Ricky harus berhati-hati." Pesan Mawar dengan nada khawatir. Ricky terdiam sejenak, mencerna ucapan Mawar. Kecurigaannya terhadap Ranty semakin besar. Anak yang dikandungnya pasti bukan anaknya. Ia harus mencari tahu kebenaran ini. Setelah beberapa saat berbincang dengan Mawar, Ricky berpamitan padanya. Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Ricky ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Ranty. Ia tidak ingin ada keraguan yang menghantuinya terus-menerus. Ricky tahu, ia harus bertindak hati-hati. Ia tidak ingin menyakiti siapa pun, terutama Ken dan Luna. Namun, ia juga tidak ingin terus-menerus dibohongi dan dimanipulasi oleh orang lain. Ricky bertekad akan mencari tahu kebenaran, dia akan mengikuti permainan wanita itu. Ricky terbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya berkelana, melayang-layang antara wajah polos Ken dan Luna, dan tatapan penuh intrik dari Ranty. Ia merasa lelah, bukan hanya karena pekerjaan yang menumpuk, tapi juga karena beban pikiran yang seolah tak berujung. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Ranty dari benaknya. Namun, semakin ia mencoba, semakin jelas pula bayangan itu hadir. Ricky merasa seperti terperangkap dalam labirin yang tak berujung. Ia ingin segera keluar dari masalah pelik ini. Jam dinding di kamarnya berdetak perlahan, seolah mengejek ketidakberdayaannya. Ricky membuka mata dan melirik jam tersebut. Pukul 23.00. Seharusnya saat ini ia sudah terlelap dalam tidurnya. Namun, pikirannya terlalu penuh untuk bisa beristirahat. Ricky bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela. Ia membuka tirai dan menatap langit malam yang bertaburan bintang. Cahaya bintang yang redup seolah menemaninya dalam kesendirian. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ricky teringat pada janjinya kepada Nayla, bahwa ia akan menjaga Ken dan Luna dengan segenap jiwa raganya. Janji itu menjadi sumber kekuatannya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN