"Sayang, belum bangun?" Nayarra membelai perutnya yang sudah sangat besar sambil mengajak janinnya berbicara. Sudah empat bulan hal seperti ini menjadi rutinitas yang selalu ia lakukan, berbicara dengan janin di dalam kandungannya. Awalnya terasa janggal, namun sekarang justru kebalikannya. Sehari saja tidak mengajak janinnya berbicara, ada yang terasa kurang dalam kesehariannya. Nasihat Melia tentang mencoba menerima kehadiran nyawa kecil di dalam perutnya, terus terngiang di kepala Nayarra. Sudah beberapa minggu berlalu sejak Melia mengatakan hal itu, tapi sampai hari ini Nayarra masih terus mengingatnya. Perlahan, ada rasa bersalah yang muncul dalam hatinya. Harus Nayarra akui, selama lima bulan kehamilannya, ia memang tidak bisa menerima kehadiran calon bayinya. Ia bahkan mematikan

