"Kamu yakin tidak akan berjuang lagi?" tanya Kamil hati-hati. "Yakin." Nayarra mengangguk mantap. "Kamu tidak akan menyesal?" Kamil khawatir kalau ini hanya bentuk luapan emosi sesaat yang Nayarra rasakan. Ia tidak ingin Nayarra menyesali keputusan yang dibuatnya sekarang. Nayarra mengembuskan napas perlahan. "Setidaknya Aya sudah pernah mencoba. Aya sudah mengutarakan apa yang Aya rasakan dan harapkan. Jadi tidak akan ada penyesalan." "Kalau kamu memang sudah lelah mencoba dan ingin menyerah, kamu selalu bisa datang sama Mas. Mas akan selalu ada buat kamu, Mas nggak akan ke mana-mana." Ucapan yang telah tertahan sekian lama, akhirnya bisa Kamil ungkapkan. "Maksud Mas Kamil?" tanya Nayarra bingung. Perkataan Kamil tentang datang pada pria itu seolah memiliki makna tersembunyi.

