“Ini, Mas, diminum!” tawar Jennifer seraya meletakkan cangkir teh di atas meja. Alexander mengangguk, tersenyum tanpa curiga sambil menyesap tiap kehangatannya. Jennifer kembali duduk di sofa, melipat pakaian si kecil, masih dengan perannya yang cantik sebagai ibu rumah tangga yang baik. “Kerjanya, tuh, jangan diforsir terus, Mas! Ngapain, sih? Bikin capek badan aja.” “Aku harus bangkit lagi, Sayang! Aku harus bisa dapatkan posisi itu lagi.” Jennifer tersenyum, mendekati sang suami. Ditariknya kursi beroda itu, memberikan ruang untuk duduk di pangkuan Alexander. Sebentar mereka menautkan bibir untuk mencium mesra. “Aku nggak peduli apa jabatan kamu, Mas,” ujar Jennifer sambil mengusap bibir basah Alexander. “Kalau kamu jadi sakit dan nggak punya waktu Cuma demi jabatan, aku nggak suka

