Warna suara itu membuat Samantha terhenyak. Setelah kehadirannya, debaran jantungnya, binar matanya, lalu suaranya yang sama persis dengan Rose, Samantha tak bisa berpikir lagi. “Kamu siapa?” geram Samantha. Tanpa sadar, Samantha bertanya sekenanya. Hatinya mengingat Rose, apakah karena dia yang terlalu merindukan. Rose menatap binar pria itu yang berkaca-kaca. Bukan hanya Samantha, dirinya pun menahan rindu. Ingin memeluk tanpa jarak. “Maaf, Pak?” Rose kembali bertanya dengan tenang. Samanta menganjur napas panjang, sedikit menunduk sambil mencengkram erat jemarinya. “Gila, lo gila, Sam!” gerutunya. Samantha abai, berjalan gontai meninggalkan wanita bersebut Mila untuk mengikuti dari belakang. Mereka harus pergi sebelum hari gelap. “Pak Sam,” panggil Rose, lalu menarik lengan Sa

