Begitu sampai di Bogor, gue langsung menuju ke kampus, ke laboratorium tepatnya. Cintaku dan ransel andalan gue letakkan di ruang asisten praktikum, nitip ceritanya, secara semester ini gue ga lagi ngajuin diri untuk menjadi pengajar bagi adik-adik kelas gue. Keburu keder bagi waktunya. “Eh Do, udah dateng maneh?” tanya Reno saat gue lagi ngecek rotary evaporator dan sample penelitian gue yang keaduk-aduk di dalam labu ekstraksi. “He euh, naon?” “Nothing. Gue kira ke kosan dulu.” “Ga sempat. Balikin motornya Ian dulu tadi gue. Biasa Mami nyuruh nunggu bekal.” “Mana?” “Di tas gue. Lo belum makan?” “Belum.” “Ini udah jam sembilan. Kenapa lagi?” omel gue. Reno terduduk lesu di samping gue. Kepalanya ia rebahkan di atas meja. “Ngapain malah duduk? Sana ambil makanannya. Mami bawain l