“Sayangnya aku...” sapaku hangat saat mendapati Edo yang sedang berkutat dengan beberapa siung bawang-bawangan. “Pagi sayang,” balasnya seraya menolehkan kepala kepadaku. Kedua matanya menutup, basah karena air mata. Aku, tertawa geli. Ada-ada saja Edo ini. “Perih Na,” rajuknya. “Sini aku bantuin. Mama mana?” “Ke depan, ada tukang sayur.” “Oh.” Aku duduk di samping Edo, membantunya mengupas kulit-kulit bawang yang membuat kekasihku itu berurai air mata. “Ga biasa ya ngupas bawang?” Edo mengangguk, kedua matanya masih menutup. “Udah sini Hana aja, kasian banget sih!” Edo meletakkan pisaunya, beranjak dari kursi menuju bak cuci, membersihkan kedua tangan dan mencuci matanya. “Masih perih?” tanyaku lagi begitu ia kembali duduk di sampingku dengan membawa secangkir teh